Mendapatkan Surat Penerimaan dari Profesor di Jepang

Pertanyaan yang paling sering saya terima dari rekan di Indonesia adalah, bagaimana cara mendapatkan surat penerimaan dari profesor di Jepang. Sebelumnya, mungkin lebih baik jika kita mengetahui kondisi para profesor di Jepang. Berikut rangkuman hasil wawancara saya dengan beberapa profesor yang saya kenal.

Fakta pertama adalah, meskipun banyak profesor di Jepang yang mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris, baik lisan maupun tulisan, namun sebagian besar lebih menyukai bahasa Jepang. Hal ini manusiawi, sebagaimana saya pribadi lebih suka berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Karena itu, jangan heran kalau kita mengirim email dalam bahasa Inggris, responnya lama, atau tidak dibalas sama sekali jika beliau tidak mengenal kita.

Fakta kedua adalah, profesor di Jepang sangat sibuk. Berbeda dengan di Indonesia yang per-departemen dapat memiliki lebih dari 1 profesor, kalau di Jepang, 1 departemen hanya memiliki 1 profesor. Dengan kata lain, ketua departemenlah si profesor tersebut. Jadi profesor di Jepang bukan guru besar kalau di Indonesia, tapi lebih ke jabatan struktural. Ohya, secara umum, situasi kerja di universitas Jepang agak berbeda dengan kondisi di Indonesia. Jumlah personal di setiap departemen biasanya sangat sedikit, sehingga beban kerja tiap individu lumayan besar. Faktor kesibukan ini mempengaruhi sikap sang profesor terhadap mahasiswa asing. Karena, secara umum, memiliki mahasiswa asing berarti siap-siap untuk dibuat tambah repot dan sibuk (apalagi ada pendapat umum, mahasiswa asing biasanya menimbulkan masalah, berkaitan dengan benturan budaya, dsb).

Fakta ketiga, sebenarnya, profesor di Jepang butuh mahasiswa post-graduate! Ini kondisi umum yang ada di hampir semua universitas di Jepang. Jadi, mendapatkan surat penerimaan mungkin sangat mudah. Yang jadi masalah adalah, sumber biaya kita selama studi (biaya sekolah dan biaya studi). Sehingga, jika kita mau biaya sendiri, kans untuk diterima oleh profesor tersebut sangatlah besar. Jika kita jelas mendapat beasiswa yang mencukupi untuk biaya hidup dan sekolah (dari Monbusho misalnya), profesor yang dituju bisa hampir dipastikan akan menerima kita. TAPI jika modal kita NOL, dalam artian, kita belum punya beasiswa dan tidak mampu biaya sendiri, ini yang tidak mudah. Karena, memberikan persetujuan untuk menerima kita berarti si profesor mau direpotkan dengan usaha untuk mencarikan beasiswa untuk kita.

Fakta keempat, beasiswa di Jepang untuk mahasiswa asing sangat ditentukan oleh nama besar profesor yang memimpin departemen tersebut. Untuk Monbusho, ada jatah untuk setiap universitas. Di tiap universitas ini, prioritas akan diberikan ke mahasiswa asing yang diajukan oleh profesor yang mempunyai nama besar. Selain itu, ada unsur “pemerataan”, artinya, kalau dalam 1 departemen sudah ada yang mendapatkan beasiswa Monbusho, maka peringkatnya akan diletakkan dibawah departemen yang belum punya. Atau, sama-sama memiliki mahasiswa yang mendapatkan beasiswa Monbusho, dan kita dari Indonesia, maka kans kita untuk mendapatkan beasiswa lebih besar jika direkomendasikan oleh profesor yang belum punya mahasiswa dari Indonesia, dan begitu seterusnya. Itulah kenapa, kita kadang mendapatkan jawaban “tempat saya sudah penuh”, yang mungkin artinya, saya sudah punya mahasiswa Monbusho, atau saya sudah punya mahasiswa Monbusho dari Indonesia, yang berarti kans untuk mendapatkan beasiswa Monbusho lagi bagi kita sangat kecil atau hampir nol persen. Selain itu, negara asal juga mempengaruhi. Kabarnya, sekarang Monbusho lebih memprioritaskan mereka yang berasal dari Afrika.

Lalu, bagaimana cara mendapatkan surat penerimaan dari profesor di Jepang? Untuk yang mampu biaya sendiri atau sudah mendapatkan beasiswa tapi belum mendapatkan profesor, tidak akan dibahas disini, karena prosesnya tidak begitu sulit. Tinggal kontak profesor yang bersangkutan. Sekali lagi, kalau email kita dalam bahasa Inggris, jangan heran kalau tidak direspon (ingat fakta pertama). Tapi kasus tidak direspon untuk mereka yang mampu biaya sendiri atau sudah mendapatkan beasiswa biasanya cukup jarang.

Secara umum, ada dua cara untuk menghubungi profesor di Jepang, yang pertama kita hubungi sendiri. Caranya, browsing di internet, di pubmed misalnya, cari paper yang kita minati, lihat siapa profesornya (biasanya menjadi contact author-nya), lalu kirim email perkenalan, plus pernyataan kita tertarik dengan topik riset beliau, sedikit diskusi, dst, dan jika saatnya tepat, mintalah bantuannya untuk studi lanjut di Jepang. Kita bisa ikuti tips-tips umum yang banyak tersedia di internet atau di milis beasiswa. Cara kedua adalah melalui rekomendasi, baik rekomendasi institusi maupun personal. Perlu diketahui, bahwa di Jepang, orang yang berperilaku baik lebih disukai daripada orang yang pintar. Karena itu, jangan takut dengan Indeks Prestasi waktu mahasiswa, kemampuan berbahasa, pengetahuan dasar kita, proposal riset, dsb. Sayangnya, hal ini pula yang menyebabkan tidak mudah bagi kita untuk mendapatkan surat penerimaan dari profesor di Jepang. Sebab, darimana profesor tersebut tahu kita berperilaku baik? Cara paling gampang adalah, dengan rekomendasi institusi atau orang yang dikenal baik oleh profesor tersebut. Itulah kenapa, yang dikirim via U to U, atau rekomendasi personal terkesan sangat gampang diterima. Untuk kasus rekomendasi personal, faktor penting disini adalah, si pemberi rekomendasi ini dikenal dengan sangat baik oleh profesor yang dituju. Jika orangnya dikenal tapi hubungan mereka tidak dekat, sebaiknya si pemberi rekomendasi ini punya kenalan profesor lain yang dikenal baik oleh profesor yang dituju (lebih bagus lagi jika lebih senior daripada si profesor yang dituju). Sebab, sangat mungkin si profesor ini akan bertanya kepada supervisor yang bersangkutan. Unsur “kenal” dan “rekomendasi” ini sangat penting di Jepang!

Lalu, bagaimana jika kita tidak punya kenalan yang bisa dimintai rekomendasi? Cara paling gampang adalah, ikut kursus yang diselenggarakan di universitas tersebut. Perlu diketahui, bahwa setiap tahun Monbusho menawarkan beasiswa untuk mengikuti kursus singkat (1 bulan sampai 1 tahun, tanpa gelar) semacam ini. Jumlah yang mendaftar biasanya sangat sedikit (padahal kuotanya lumayan banyak) karena banyak yang tidak tahu, atau karena besar beasiswa untuk biaya hidup memang tidak besar (ada resiko nombok). Jadi, kans untuk mendapatkan beasiswa untuk kursus semacam ini biasanya sangat besar. Inilah kesempatan paling bagus untuk memperkenalkan diri kita. Jika kerja dan sikap kita dinilai baik, bilang saja terus terang kita ingin melanjutkan studi tapi tidak punya duit. Karena itu, bagi anda yang sudah beruntung punya kenalan profesor yang mau membalas email-email anda, jangan lupa untuk mengatakan, jika ada peluang kursus singkat, mohon diberitahu. Terutama jika anda sudah telanjur nembak ingin dibimbing beliau tapi ditolak. Ingat fakta keempat, dalam proses mencari beasiswa, sang profesor berperan sangat besar. Jadi, jika beliau sanggup menerima kita itu artinya beliau sanggup membantu kita mencari beasiswa.

Kesalahan umum dari kita semua adalah, terlalu cepat ngomong minta dibimbing, dan begitu ditolak langsung mundur dan tidak mau menghubungi lagi profesor tersebut. Padahal, alasan penolakan biasanya sepele, si profesor sangat sibuk, departemennya sudah “penuh”, atau dia sekedar belum percaya dengan kita (takut kita hanya akan menjadi pembuat masalah di Jepang), BUKAN karena proposal riset yang kita kirimkan kurang bermutu (faktanya, sering riset kita nanti berbeda jauh dari proposal yang kita kirimkan) atau kita dinilai tidak cukup pintar untuk dia bimbing. Karena itu, jika ditolak tidak perlu kecil hati, karena kita hanya belum beruntung, itu saja. Saran dari saya, jika anda sudah punya kenalan profesor di Jepang, jaga hubungan baik dengan beliau.

Yang terakhir, jangan lupa berdoa. Faktor keberuntungan sangat diperlukan untuk melanjutkan studi ke Jepang.

8 Responses to “Mendapatkan Surat Penerimaan dari Profesor di Jepang

  • pak afie semoga saya juga bisa melihat jepang lebih dekat seperti bapak. Amin

    afie: amin

  • terima kasih infonya pak, doakan saya y,,,;p

    afie: amin..

  • wah, saya juga mau melihat jepang dr dekat… ingin bisa mempelajari kebudayaan mereka… meskipun kakak perempuan saya yang lebih jago dlm mempelajari bahasa jepang šŸ˜‰

  • Assalamualaikum Wr Wb
    Yth staff Uns

    Pak saya sangat ingin mengetahui beasiswa bagi lulusan sastra jepang untuk melanjutkan studi s2 di Jepang tentunya, karena saat ini saya berfrofesi sebagai pengajar, adakah beasiswa lain yang ditawarkan pemerintah Jepang selain beasiswa mombusho dan beasiswa training guru , misalkan dengan riset atau penelitian? Bila berkenan mohon informasinya, Terimakasih.

  • This is a great article. Iā€™m new to blogging but still learning. Thanks for the great resource.

  • “Fakta ketiga, sebenarnya, profesor di Jepang butuh mahasiswa post-graduate! Ini kondisi umum yang ada di hampir semua universitas di Jepang.”

    Sebenarnya manfaat mahasiswa post graduated untuk si profesor jepang sendiri?lebih spesifiknya di lab bagaimana pak afie?

  • Selamat Pagi pak Afie,

    Saya lulusan S1 sastra jepang dan ingin sekali melanjutkan S2,,,boleh kasih saran jalur selain monbusho yang dapat saya ikuti agar bisa mendapat beasiswa ke Jepang untuk meneruskan S2?Dan melihat keadaan yang ada sekarang, S2 untuk jurusan apa yang kemungkinan diterima di Jepang?
    Terima kasih

  • asisten pak bos
    7 years ago

    Dok,,terima kasih atas infonya. Kebetulan setelah sekian lama baru membacanya…
    Oke, mulai sekarang saya akan rajin cari info beasiswa di jepang dan juga cari kenalan profesor melalui papernya…
    Dan satu lagi dok,,,bolehkah suatu saat nanti,,saya meminta surat rekomendasi untuk saya dari dr. afie? saya janji akan selalu bersikap baik, rajin, berkomitmen, dsb. Hehe. *bigsmile*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar