Publikasi di Jurnal Internasional Itu (tidak) Mudah

Kalau sebelumnya saya menulis menerbitkan naskah di jurnal internasional itu (tidak) sulit, kali ini saya ingin menulis menerbitkan naskah di jurnal internasional itu tidak mudah. Lho, kok berkebalikan? Sebenarnya tidak juga. Di tulisan pertama saya hanya ingin memberi gambaran bahwa publikasi internasional itu tidak sulit, tapi bukan berarti mudah. Begitu juga sebaliknya. Namun karena cenderung berisi unek-unek dibandingkan dengan tips, maka tulisan ini saya masukkan juga ke kategori Curahan Hati.

Problem pertama dan utama untuk publikasi internasional, terutama untuk laporan penelitian, adalah masalah data. Data yang diminta harus memenuhi beberapa kaidah. Yang pertama adalah keterbaharuan. Data baru lebih mudah dipublikasikan, sedangkan data yang hanya melengkapi data yang sudah ada (meskipun data pelengkap ini baru) lebih sulit dipublikasikan. Yang kedua adalah nilai data tersebut. Data yang penting, yang dapat menentukan arah penelitian selanjutnya lebih mudah dipublikasikan. Data positif (A menyebabkan B) lebih mudah dipublikasikan daripada data negatif (A tidak menyebabkan B). Yang ketiga adalah kejelasan data tersebut. Data yang menjelaskan secara langsung sesuatu akan lebih mudah dipublikasikan, sedangkan makin “tidak langsung” akan makin sulit dipublikasikan.  Yang keempat adalah kelengkapan data. Sebagai contoh, kita ingin membuktikan bahwa A menyebabkan B. Jika data yang kita punya hanya dari 1-2 macam percobaan maka akan sulit dipublikasikan. Tapi jika berasal dari sekian banyak percobaan yang mampu menyingkirkan semua kemungkinan variabel yang lain, akan lebih mudah dipublikasikan. Jika kita mempunyai data yang bagus, publikasi di jurnal yang bagus tidak sulit.

Masalahnya, mendapatkan data yang bagus itu tidak mudah. Perlu kerja keras dan keberuntungan. Kerja keras karena makin tinggi kualitas jurnal target kita makin tinggi ekspektasinya. Memang tergantung juga niat kita untuk publikasi itu apa. Kalau sekedar mengejar angka kredit untuk kenaikan pangkat, 10 publikasi lebih bagus daripada 1 publikasi, karena kuantitas lebih penting daripada kualitas (angka kredit dihitung per paper). Namun, di kalangan ilmuwan internasional, lebih baik punya 1 publikasi tapi di jurnal yang top daripada punya 10 tapi di jurnal yang biasa saja (lho, memangnya ada jurnal internasional yang biasa saja? Banyak!!! *smile*). Banyak publikasi memang menunjukkan yang bersangkutan produktif. Tapi nilai prestise dan prestasi seseorang ditentukan dari jurnal terbaik yang pernah dia publikasikan, begitu kata profesor saya. Lagipula, publikasi di jurnal yang top identik dengan peluang untuk mendapatkan dana riset yang lebih besar. Dan ingat, “sekedar banyak publikasi internasional” tidak akan begitu bermakna mengangkat peringkat institusi di perangkingan universitas kelas dunia. Univ saya di dunia mimpi ini misalnya, hampir tiap tahun per lab (1 fakultas terdiri dari sekian banyak lab) mampu publish 1 paper di jurnal yang berkualitas. Tetapi karena publikasi di jurnal berkualitas level atas sangat minim (mayoritas di jurnal berkualitas level menengah, termasuk paper saya *smile*), peringkat universitas saya ini tidak naik-naik. Bayangkan, 1 publikasi per tahun per lab di jurnal internasional berkualitas masih belum cukup untuk masuk di jajaran universitas kelas dunia. Padahal sekali lagi, ini di dunia mimpi!

Perlu diketahui, publikasi di jurnal yang berkualitas level menengah (apalagi yang top) itu benar-benar sangat tidak mudah. Mendapatkan data penting dan bagus, ternyata teramat sangat sulit sekali. Apalagi, kadang bagus menurut kita, dianggap tidak bagus menurut editor atau juri (Yang lebih menyakitkan, setelah bekerja keras 1 tahun penuh, mandi darah dan air mata, eh, data yang kita sodorkan dinilai tidak penting, hehehe *smile*). Padahal, ini di dunia mimpi, dimana alat lengkap, reagen dan kit melimpah, akses jurnal tak terbatas, tidak ada masalah dengan biaya untuk publikasi (yang kadang begitu mahalnya), dan selama meneliti kita tidak perlu memikirkan apa-apa lagi selain penelitian (karena hidup terjamin).

Lalu bagaimana dengan UNS? Tulisan ini dibuat memang demi UNS tercinta. Saat ini UNS sedang giat go-international. Baru saja para pimpinan universitas duduk bersama membicarakan cetak biru untuk masuk di jajaran universitas tingkat dunia. “Tidak sekedar tercatat”, begitu tekadnya. Sungguh ingin tidak sekedar tercatat? OK, penulis akan mendukungnya. Yang jadi masalah, sitasi memegang poin yang besar. Mungkin UNS mampu mengejar poin lainnya. Tapi masalah sitasi? Mampukah UNS mewujudkan impiannya? Sekali lagi, universitas saya di dunia mimpi ini, masih tergolong universitas yang biasa saja, bukan universitas top di dunia. Padahal, ini di dunia mimpi. Lalu, bagaimana dengan UNS?

Pesimis? Bukan pesimis. Tapi jika kita memang ingin go-international dan benar-benar “tidak hanya sekedar tercatat” banyak perubahan besar yang harus dilakukan oleh UNS dan civitasnya. Untuk masalah penelitian ini, mau tidak mau, UNS harus memberikan perhatian dan anggaran khusus, terutama untuk penyediaan alat-alat dasar. Salah satu hambatan penelitian di UNS adalah alatnya tidak ada atau minim. Untuk publikasi internasional di bidang saya, misalnya, sekedar data positif dengan menggunakan PCR saja sudah tidak begitu dianggap. Memang betul, kita dapat pinjam ke institusi lain. Sayangnya, terlalu banyak meminjam akan mempengaruhi biaya dan waktu. Akibatnya, begitu data didapat, mungkin sudah dipublikasikan oleh orang lain duluan. Lagipula, kalau betul dana yang tidak diserap UNS lebih dari 60 M, itu berarti masalah dana bukan masalah lagi.

Peran staf dosen juga sangat diperlukan. Menuntut institusi menyediakan alat tapi begitu disediakan malah hanya menjadi pajangan juga bukan hal yang bijaksana. Dan kalau mau jujur, ini banyak terjadi di UNS. Selain berkaitan dengan masalah managemen (sering yang butuh alat tersebut tidak tahu kalau UNS sudah punya alatnya), ini juga terkait dengan budaya riset yang memang belum membudaya. Penelitian sering hanya dilakukan ketika mau naik pangkat saja. Dan jujur, penulis juga begitu. Karena itu, budaya penelitian harus dibudayakan, iklimnya harus dikondisikan. Di univ saya di dunia mimpi ini, setiap tahun universitas mengeluarkan semacam buku laporan publikasi per-fakultas dan per-departemen/laboratorium, yang kemudian dibagikan ke seluruh departemen/laboratorium. Dari buku itu mudah diketahui, profesor (profesor=pemimpin laboratorium) yang aktif, mana yang kurang aktif, dll. Ada teguran dari pimpinan institusi terhadap laboratorium yang kurang aktif. Ada penilaian tahunan pula tentang kinerja masing-masing departemen terkait publikasi, dst. Model semacam ini mungkin perlu diberlakukan di UNS.

Jika UNS serius go-international dan “tidak hanya sekedar tercatat”, mau tidak mau kita harus meningkatkan publikasi dosen UNS di jurnal internasional, tidak sekedar jurnal internasional, tapi jurnal internasional yang berkualitas. Tapi sungguh, Bapak Ibu yang terhormat, menerbitkan naskah di jurnal internasional itu (di dunia mimpi saja) tidak mudah!

5 Responses to “Publikasi di Jurnal Internasional Itu (tidak) Mudah

  • Mas Afie,
    ternyata di depan masih remang-remang ya… bahkan gelap.

    Salam

    afie: Yah semoga habis gelap terbitlah terang, amin.

  • Danang, FK Undip
    9 years ago

    Kalau Perguruan Tinggi berkesungguhan mau go international setidaknya harus berlangganan International Journal (contoh: Science Direct) agar civitas akademiknya dapat meng-update pengetahuan; jika tidak mau memfasilitasinya, kesungguhan misi dan visi petinggi Perguruan Tingg tsb yang dipertanyaan. Bagaimana UNS anda?

    Dari searching saya, nampaknya UNS itu punya FKIP yaaa. Telah terbukti sejak lama, kalau di dalam tubuh Universitas itu ada FKIPnya bagaikan FKIP itu benalu yang menggerogoti tubuh universitas. UNS nampaknya tidak belajar dari ini. Lihat Undip dan IKIP Semarang; Undip maju melesat karena tidak punya benalu FKIP. Dan lihatlah perkembangan IKIP Semarang yg menjadi Unnes, bakalan sulit beranjak dari level bawah. Kenapa demikian? Nah tanyakan ke Pak Samsul rektor anda, tentu dia menjawab senyum dan silahkan tafsirkan sendiri. Khan rektor anda dari FK, seperti anda!

    Salam kenal, saya pernah JSPS di Tsukuba.

    afie: UNS sudah mulai berlangganan portal jurnal internasional Pak Danang… Terima kasih sudah berkenan mampir.

  • chandra_ahsan
    9 years ago

    halo mas afie,
    aq mau tanya sedikit tentang publikasi internasional.
    1. brp biaya untuk publish di jurnal internasional, misalnya menggunakan science direct.
    2. jika publikasi kita sudah diterima kemudian ada yang mendownload atau membayar publikasi kita lewat sciencedirect misalnya, apakah dari pihak sciencedirect akan membagi “fee” ke kita. klo iya, lalu brp persenkah “fee”-nya itu..?

    trims atas jawabannya, semoga sukses….

    afie:
    1. biaya tergantung jurnalnya. Ada yg gratis, ada yang perhalaman 75-100 dolar utk 8 halaman pertama. Yg jelas, kalau pakai gambar/foto berwarna sangat mahal, jadi jika tidak penting sekali lebih baik pakai gambar/foto hitam putih, jika ingin menghemat.
    2. Sayangnya fee semacam itu tidak ada 🙂 Biasanya “imbalan”-nya berupa kesempatan untuk mendapatkan 100-an softcopy gratis, 1 jurnal gratis, atau sebangsanya (tergantung jurnalnya).

  • chandra_ahsan
    9 years ago

    terima kasih atas jawaban sebelumnya mas afie,
    mas afie bilang kita bisa publish gratis di suatu jurnal internasional, kalau boleh tau apa saja itu jurnalnya…?
    trims sebelumnya…

    afie: banyak, Mas, tergantung bidangnya….kalau dibidang saya (virologi) yang gratis itu VIROLOGY, asal tidak lebih dari 8 halaman, tidak ada gambar/foto berwarna. Yang namanya jurnal internasional itu ribuan kok, Mas…dan hampir di masing-masing bidang ada yang gratis…

  • Thanks. artikelnya bagus!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar