Afie’s

doctor-lecturer-virologist-microbiologist-molecular biology

Sekilas tentang Flu Burung (Avian Influenza)

Virus Influenza pertama kali dideskripsikan oleh Hipocrates. Virus ini dikenal sebagai salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas utama di seluruh dunia. Selain itu virus ini dikenal dapat menginfeksi beberapa jenis hewan. Dan yang paling menakutkan, virus ini pernah menyebabkan pandemi di tahun 1918 yang diperkirakan menelan 50 juta korban jiwa di seluruh dunia.

Virus Influenza tergabung ke dalam famili Orthomyxoviridae. Ciri khas famili ini adalah memiliki genom RNA untai tunggal negatif bersegmen. Famili ini terdiri dari 5 genus, yaitu virus Influenza A, virus Influenza B, virus Influenza C, Thogotovirus, dan Isavirus. Kita tidak akan membahas Thogotovirus dan Isavirus, karena sejauh ini diketahui tidak menginfeksi manusia. Dari ketiga genus virus Influenza, hanya virus Influenza A dan B yang mempunyai arti klinis penting pada manusia. Dan dari kedua genus tersebut, kita hanya akan membahas virus Influenza A.

Untuk memberi nama strain virus Influenza, digunakan aturan sebagai berikut. Yang pertama disebutkan genus (tipe)-nya dulu, lalu nama spesies asal virus tersebut diisolasi (kecuali jika berasal dari manusia), diikuti dengan lokasi tempat virus diisolasi, nomor isolat, tahun dilakukan isolasi virus, dan khusus untuk virus Influenza A, disebutkan subtipe hemaglutinin dan neuraminidase-nya. Sebagai contoh, di Indonesia, pada tahun 2008, dari spesies ayam, berhasil diisolat virus Influenza A H5N1, dengan nomor isolat 15. Maka virus tersebut akan diberi nama “virus Influenza A/chicken/Indonesia/15/08(H5N1).

Saat ini dikenal ada 16 subtipe hemaglutinin dan 9 neuraminidase (Jadi, dari kombinasi tersebut, ada 144 jenis virus Influenza grup A!). Keseluruh subtipe hemaglutinin dan neuraminidase tersebut ternyata dapat ditemukan pada spesies avian (unggas). Oleh karena itu, para peneliti berhipotesis, bahwa semua jenis virus Influenza grup A sebenarnya berasal dari virus Influenza unggas (virus flu burung). Dari analisis genomik ditemukan bahwa angka evolusionari virus flu burung sangat rendah. Selain itu, pada burung akuatik, virus Influenza ditemukan dalam fase evolusi stasis. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa pada burung akuatik terjadi keseimbangan antara virus dengan inangnya. Dalam hal ini, substitusi asam amino tidak menimbulkan keuntungan yang spesifik, sehingga, meskipun terjadi mutasi (virus Influenza sangat mudah mengalami mutasi) tidak terjadi perubahan asam amino. Sebaliknya, pada hewan lain termasuk manusia, mutasi yang terjadi selalu disertai dengan perubahan asam amino, sehingga akan terjadi pengumpulan substitusi asam amino pada virus turunannya.

Virus Influenza telah beberapa kali menyebabkan pandemi. Pandemi yang pertama pada tahun 1918-1919 yang disebabkan oleh H1N1. Pandemi tersebut terjadi dalam 3 gelombang. Gelombang pertama terjadi pada musim semi 1918, berupa wabah penyakit pernafasan ringan. Tidak ada laporan keterlibatan peternakan unggas waktu itu. Wabah yang terjadi sangat menular, namun hanya menimbulkan sedikit korban jiwa. Di Spanyol, karena media begitu gencar meliput wabah ini, maka segera wabah ini disebut sebagai wabah influenza Spanyol. Di akhir Agustus 1918, timbul wabah kedua yang kemudian menyebar ke seluruh dunia diikuti gelombang ketiga pada musim semi 1919. Gelombang kedua dan ketiga ini menelan korban jiwa begitu banyak, dan tidak diketahui jumlah pastinya. Diperkirakan pandemi tersebut menelan sekitar 50 juta korban jiwa.

Pandemik kedua terjadi tahun 1957, yang dikenal dengan nama wabah Influenza Asian (H2N2). Pandemik ini berasal dari Cina, yang kemudian menyebar ke Singapora dan Hongkong. Virusnya sendiri pertama kali diisolasi di Jepang. Berdasarkan analisa genetik dan biokimia, diperkirakan virus H2N2 berasal dari hasil penyusunan kembali genom virus Influenza manusia dan virus Influenza burung (unggas). Wabah ini menyebabkan 1 juta manusia kehilangan nyawanya.

Sebelas tahun kemudian, H2N2 digantikan oleh H3N2 yang pertama kali diisolasi di Hongkong. Wabah ini dikenal dengan wabah virus flu Hongkong. Meksipun dapat segera diatasi, namun wabah ini sempat menelan korban puluhan ribu jiwa.

Di tahun 1977 sempat terjadi wabah baru Influenza di Cina dan Rusia. Wabah ini ternyata disebabkan oleh H1N1. Yang unik, wabah ini hanya menyerang mereka yang berusia kurang dari 25 tahun. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa mereka yang berusia lebih tua dapat bertahan dari serangan wabah ini karena telah memiliki kekebalan terhadap virus H1N1. Hal ini juga menimbulkan dugaan bahwa meskipun virus Influenza mudah mengalami mutasi, namun beberapa subtipe penting seperti H1N1 dan H3N2 masih beredar sampai sekarang. Fakta bahwa mereka yang berusia lebih dari 25 tahun relatif tahan terhadap wabah H1N1 pada tahun 1977 menjadi dasar untuk mengembangkan vaksin virus Influenza yang dilemahkan untuk merangsang kekebalan jangka panjang.

Belajar dari pandemi-pandemi sebelumnya, perhatian mulai ditujukan terhadap H5N1 meskipun virus ini belum sampai menyebabkan pandemi. Wabah pertama kali terjadi Mei 1997 di Hongkong, pada anak berusia 3 tahun, dan virus H5N1 yang berhasil diisolasi dari pasien tersebut menunjukkan bahwa semua komponen virus tersebut identik dengan virus Influenza burung (unggas). Penemuan ini adalah penemuan pertama yang menunjukkan bahwa transmisi virus flu burung ke manusia menyebabkan hasil yang fatal. Pada November dan Desember 1997 ditemukan 17 kasus baru dengan 5 orang berakhir dengan kematian. Tidak ada bukti penyebaran dari manusia ke manusia. Kebetulan semua kasus mempunyai riwayat kontak dengan unggas (mereka tinggal di dekat pasar unggas di Hongkong). Oleh karena itu, otoritas setempat memerintahkan untuk membasmi seluruh unggas hidup. Langkah ini meskipun mahal secara ekonomi ternyata berhasil menghentikan wabah yang terjadi. Tidak ada kasus baru yang ditemukan atau dilaporkan setelah pemusnahan unggas tersebut. Meskipun begitu, pada Februari 2003, dua warga Hongkong dilaporkan terinfeksi H5N1 setelah bepergian ke Cina.

Wabah baru H5N1 muncul kembali Juli 2003 di beberapa peternakan unggas di Vietnam, Indonesia, dan Thailand, yang kemudian segera menyebar ke hampir seluruh dunia. Selain itu, dilaporkan pula kecurigaan terjadi transmisi langsung dari unggas ke manusia. Beberapa kasus infeksi flu burung pada manusia dilaporkan terjadi di beberapa negara, dan banyak kasus yang diakhiri dengan kematian. Meskipun belum didapatkan bukti terjadinya penyebaran virus flu burung manusia, namun diduga telah terjadi transmisi dari manusia ke manusia secara terbatas. Berdasarkan pada perubahan epidemiologinya, H5N1 kemudian dibagi menjadi dua clade, clade 1 (virus avian Influenza yang diisolasi di Indocina) dan clade 2 (Cina, Indonesia, Jepang, dan Korea Selatan). Semua virus yang diisolasi di Rusia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika ternyata lebih condong masuk ke clade 2.

Selama wabah H5N1 di Hongkong pada tahun 1997, tidak ditemukan adanya indikasi terjadi infeksi virus sistemik pada individu yang terinfeksi. Namun, infeksi H5N1 pada beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya kemungkinan terjadi infeksi virus sistemik. Selain itu, dilaporkan ada virus H5N1 yang resisten terhadap inhibitor NA (oseltamivir dan zanamivir). Virus ini mengalami subsitusi pada asam amino ke-274 di protein NA-nya. Pasien yang terinfeksi virus ini akan melepaskan virus yang tetap resisten terhadap oseltamivir dan biasanya meninggal. Satu hal yang menarik, pada sebagian kasus di Indonesia, tidak ditemukan adanya riwayat kontak dengan unggas.

(bersambung …)

Daftar Pustaka:

Baltimore D. Expression of animal virus genomes. Bacteriol Rev 1971. 35(3):235-241.

Chen H, Smith GJ, Zhang SY, et al. 2005. Avian flu: H5N1 virus outbreak in migratory waterfowl. Nature. 436:191-192.

Claas EC, Osterhaus AD, Van Beek R, et al. 1998. Human influenza A H5N1 virus related to a highly pathogenic avian influenza virus. Lancet. 351:472-477.

Crosby AW. 1989. America’s Forgotten Pandemic: The Influenza of 1918. Cambridge, UK: Cambridge University Press.

de Jong MD, Bach VC, Phan TQ, et al. 2005. Fatal avian influenza A (H5N1) in a child presenting with diarrhea followed by coma. N Engl J Med. 352:686-691.

de Jong MD, Tran TT, Truong HK, et al. 2005. Oseltamivir resistance during treatment of influenza A (H5N1) infection. N Engl J Med. 353:2667-2672.

Fouchier RA, Munster V, Wallensten A, et al. 2005. Characterization of a novel influenza A virus hemagglutinin subtype (H16) obtained from black-headed gulls. J Virol. 79(5):2814-2822.

Gubareva LV, Bethell R, Hart GJ, Murti KG, Penn CR, Webster RG. 1996. Characterization of mutants of influenza A virus selected with the neuraminidase inhibitor 4-guanidino-Neu5Ac2en. J Virol. 70:1818-1827.

Hoehling AA. 1961. The Great Epidemic. Boston: Little, Brown & Co.

Johnson NP, Mueller J. 2002. Updating the accounts: global mortality of the 1918-1920. Spanish influenza pandemic. Bull Hist Med. 76(1):105-115.

Kandun IN, Tresnaningsih E, Purba WH, Lee V, Samaan G, Harun S, Soni E, Septiawati C, Setiawati T, Sariwati E, Wandra T. 2008. Factors associated with case fatality of human H5N1 virus infections in Indonesia: a case series. Lancet. 372 (9640):744-749.

Kawaoka Y, Cox N, Haller O, et al. 2005. Orthomyxoviridae. In: Fauquet C, Mayo MA, Maniloff J, et al., eds. Virus Taxonomy: VIIIth Report of the International Committee on Taxonomy of Viruses. London: Elsevier Academic Press. pp: 681-693.

Le QM, Kiso M, Someya K, et al. 2005. Avian flu: isolation of drug-resistant H5N1 virus. Nature. 437:1108.

Scholtissek C, Rohde W, Von Hoyningen V, Rott R. 1978. On the origin of the human influenza virus subtypes H2N2 and H3N2. Virology. 87 (1):13-20.

Subbarao K, Klimov A, Katz J, et al. 1998. Characterization of an avian influenza A (H5N1) virus isolated from a child with a fatal respiratory illness. Science. 279:393-396.

Tran TH, Nguyen TL, Nguyen TD, et al. 2004. Avian influenza A (H5N1) in 10 patients in Vietnam. N Engl J Med. 350:1179-1188.

Ungchusak K, Auewarakul P, Dowell SF, et al. 2005. Probable person-to-person transmission of avian influenza A (H5N1). N Engl J Med. 352:333-340.

Wang H, Feng Z, Shu Y, Yu H, Zhou L, Zu R, Huai Y, Dong J, Bao C, Wen L, Wang H, Yang P, Zhao W, Dong L, Zhou M, Liao Q, Yang H, Wang M, Lu X, Shi Z, Wang W, Gu L, Zhu F, Li Q, Yin W, Yang W, Li D, Uyeki TM, Wang Y. 2008. Probable limited person-to-person transmission of highly pathogenic Avian Influenza A (H5N1) virus in China. Lancet. 371 (9622):1427-1434.

Webster RG, Bean WJ, Gorman OT, Chambers TM, Kawaoka Y. 1992. Evolution and ecology of influenza A viruses. Microbiol Rev. 56:152-179.

Baca juga:

Penularan virus flu burung (Avian Influenza) ke manusia

Peran peternakan unggas pada penyebaran virus flu burung (Avian Influenza) pada manusia

Peran babi dalam pandemi influenza

December 21st, 2008 Posted by at 01:50am | Kesehatan, Virologi | 4 comments

4 Comments »

  1. mau tanya pak, bedanya pandemi dan epidemi itu apa?
    ataukah sama?
    ataukah tidak ada hubungannya?

    afie: nyaris sama, mas, gampangannya kalo sudah global disebut pandemi

    Comment by bias | December 21, 2008

  2. Tak kirain “Afie-an Influenza”..

    afie: hehe, Mas Arief bisa saja…:)

    Comment by Arief Fajar Nursyamsu | December 21, 2008

  3. makasih kunjungannya dokk..
    “pada sebagian kasus di Indonesia, tidak ditemukan adanya riwayat kontak dengan unggas”.., bearti yg sbagian itu kira2 disebabkan oleh apa dok?

    afie: nha ya itu yang masih menjadi misteri. Karena itu ada yg berpendapat pemusnahan unggas di Indonesia utk mengatasi flu burung bukan langkah yg tepat. Selain mahal secara ekonomi, blm tentu unggas layak di-unggas-hitam-kan.

    Comment by Nyante Aza Lae | December 21, 2008

  4. cara penanggulangan flu burung gmn?yg lbih detail
    harap sertakan gambar virus dan juga siklus hidupnya donk ok makasih

    Comment by tha | April 1, 2009

Leave a comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image