Jangan Bilang Siapa-Siapa, Ya
Hubungan pertemanan saya dengan teman polisi saya cukup unik. Kami dekat tapi jauh. Bingung, kan? Kami dekat karena hampir satu bulan sekali bertemu. Selain itu dia sering sekali membantu saya. Tapi jauh karena, bagaimanapun juga ada yang aneh dengan “pertemanan” kami ini.
Yang pertama adalah, frekuensi bertemu yang nyaris rutin, satu bulan sekali. Sepertinya “teman” saya ini butuh sesuatu untuk menulis laporan bulanan, hehe. Yang kedua adalah, dalam setiap pertemuan, saya selalu ditraktir makan. Lalu apanya yang aneh? Yang aneh adalah, tempat makannya selalu di tempat yang memungkinkan terjadinya wawancara singkat (relatif privat). Untungnya buat saya, saya dapat makan di tempat yang mahal-mahal (yang ada ruang privatnya biasanya restoran yang top) dengan gratis, hehe. Selain itu, meskipun “teman” saya ini selalu mentraktir, dia selalu meminta kwitansi/nota! Ini sesuatu yang sangat aneh di Jepang. Umumnya orang Jepang tidak mempedulikan kwitansi atau nota pembelian. Karena itu, dalam setiap akhir transaksi kasir akan selalu bertanya, apakah kita mau diberi nota atau kwitansi? Orang Jepang yang “normal” akan menolak, atau menerima untuk diperiksa sesaat (mengecek apakah harga yang dibayar sesuai dengan yang seharusnya) untuk kemudian langsung dibuang (di dekat kasir selalu ada tempat untuk membuang nota). Tapi teman saya ini tidak. Dia selalu meminta nota dan selalu disimpan. Untuk bukti kali, ya? Hehehehe … Ohya, selalu mentraktir adalah kebiasaan yang aneh di Jepang, mengingat di Jepang menganut budaya bayar sendiri-sendiri …
Keanehan yang ketiga adalah dalam setiap pertemuan selalu ada topik pembicaraan “tertentu”. Kalau “teman” saya ini sudah tua, sudah profesional. Jadi caranya bertanya relatif halus. Jadi dia akan ngobrol ngalor ngidul dulu, baru kemudian bertanya topik “tertentu” dengan halus, dengan masih bernuansa ngobrol ngalor ngidul. Kalau teman polisi lain yang masih muda (teman polisi-nya teman saya) biasanya kalau sudah memasuki “topik tertentu” dalam bertanya terlihat kaku, seperti menghafal, dan kadang sambil menghidupkan tape recorder, hehehehe …. Topik “tertentu” yang saya maksud ini adalah yang berhubungan dengan aktivitas yang mereka anggap dilakukan oleh ekstrimis muslim. Buat saya pribadi nggak masalah diwawancarai macem-macem. Justru saya anggap itu kesempatan yang baik untuk meluruskan pandangan-pandangan yang salah tentang Islam.
Dan yang paling aneh dan paling lucu adalah, dia selalu mewanti-wanti agar saya jangan sekali-sekali menceritakan pertemanan kami ke orang lain, termasuk ke teman Indonesia saya yang lain. Hanya istri saya yang boleh tahu pertemuan dan hubungan kami. Tidak hanya itu, setiap akan dan selesai bertemu dia selalu berpesan agar saya jangan memberitahukan ke siapapun tentang pertemuan kami. Teman-teman saya yang lain juga mendapatkan pesan yang sama dari polisi teman mereka, “Jangan bilang siapa-siapa, ya, kalau kita bertemu”. Hahaha, ya mana mungkin lah ya.
Anyway, bagi anda yang beruntung mendapatkan “teman” seperti ini, tidak perlu takut. Kita kan orang baik-baik, jadi berlaku wajar saja. Kalau ditanya tentang aktivitas atau informasi pribadi teman kita yang dari Indonesia, jawab saja “tidak tahu”. Jawaban yang aman buat kita dan juga buat teman kita. Kalau diajak ketemu, ya ketemu aja. Lumayan buat makan gratis, hehehe. Selain itu, mereka sangat membantu kok. Kita bisa minta tolong macem-macem. Misalnya, kita belum bisa ngomong bahasa Jepang, lalu ingin pergi jalan-jalan ke kota lain di Jepang, dan kita butuh tiket pesawat + hotel yang murah, dan kita belum tahu agen perjalanan mana yang paling murah di kota kita, tanyakan saja ke teman kita ini. Saya juga sering meminta bantuan teman saya ini untuk menterjemahkan dokumen-dokumen berbahasa Jepang yang saya terima. Lumayan, kan? Saya pribadi, meskipun memang kadang terasa “gimana” gitu, ya dia tetap saja saya anggap teman.
Jadi, jangan takut berteman dengan polisi Jepang. Tapi jangan lupa, “jangan bilang-bilang, ya”, hehehe…



asik dong makan gratis mulu.
Comment by fata | December 22, 2008
hehehe…asyik juga.
Kalau kita tidak menjadi salah satu dari sekian banyak teroris, mengapa kita harus takut?
Kita memperjuangkan Islam dengan cara yang halus namun akan keras jika diinjak.
Comment by ressay | December 23, 2008
hehehe asik juga pertemanannya..btw sssst jangan bilang siapa2 ya
Comment by atmo | December 23, 2008
badala! kok jangan bilang siapa-siapa
)
ini mah artinya aku lagi bilang ke siapa-siapa
he he he….
hem, enaknya bisa dapet traktiran. diserpis sama orang jp
walo tak kira, mesti kadang ada saatnya.. kikuk juga
dengan beribu-ribu pertanyaan mereka.
Comment by kurniaa | December 24, 2008
betsu betsu ni onegaishimasu. ^_____^
_bener gak nih??_
Comment by ran | December 27, 2008