Kepercayaan Itu Mempermudah Segalanya

Tulisan ini masih terkait tulisan sebelumnya. Salah satu hal yang saya kagumi di Jepang adalah, birokrasi yang sebagian besar sangat mudah. Ini sekedar contoh. Sebagai warga negara asing, jika kita tinggal lebih dari 90 hari di Jepang, kita harus membuat semacam kartu penduduk untuk warga negara asing. Namanya Certificate of Alien Registration (alien, karena di Jepang orang asing dianggap mahkluk luar angkasa, hahaha). Proses pembuatan kartu ini SANGAT MUDAH & SANGAT CEPAT. Bayangkan, kita hanya diminta menyerahkan paspor (juga foto), paspor ini dikopi oleh mereka, dan kita diminta mengisi formulir. Di formulir tersebut ditanyakan alamat tempat tinggal kita. Begitu formulir selesai kita isi, kita akan diminta untuk menunggu barang 5-10 menit, dan lalu kartu Certificate of Alien Registration sementara kita jadi. Kartu sementara ini sudah dapat digunakan untuk aplikasi apapun dan berfungsi sama seperti kartu yang asli!!! Dua minggu kemudian (sesuai tanggal yang ditentukan), kita dapat mengambil Certificate of Alien Registration tersebut. Bentuknya bagus, seperti kartu SIM, ada foto dan identitas kita. Kalau misalkan kita pindah tempat tinggal, kita juga wajib melaporkan alamat yang baru ke balai kota. Untuk proses ganti alamat ini juga sangat mudah. Kita tinggal mengisi formulir informasi perpindahan alamat, data kita di balai kota akan diganti, lalu alamat tempat tinggal yang baru akan dituliskan di balik Certificate of Alien Registration kita. That’s it. Sangat sederhana. Ketika membuat Certificate of Alien Registration kita cukup menunjukkan paspor, setelah itu proses perubahan lainnya hanya mengisi formulir. Tanpa perlu menunjukkan surat keterangan dari RT-RW-lurah-camat, dll, yang membuktikan informasi yang kita berikan tersebut. Kenapa begitu mudah? Karena mereka PERCAYA pada kita.

Prosesnya akan sangat berbeda jika kita berurusan dengan imigrasi Jepang. Mereka akan mengkonfirmasi semua informasi yang kita berikan. Kenapa begitu? Karena banyak warga negara asing yang kadang nakal. Tetapi sikap para petugas imigrasi Jepang ini akan sangat berbeda kalau kita memenuhi syarat-syarat yang diminta, dan syarat-syarat tersebut berupa dokumen yang dikeluarkan oleh badan/perusahaan/kantor di Jepang. Meminta ijin kerja misalnya. Hanya menyerahkan surat keterangan kontrak dari perusahaan yang akan mempekerjakan kita dan mengisi formulir (dan tentu saja menunjukkan Certificate of Alien Registration). Prosesnya hanya 5-15 menit, dan surat keterangan ijin kerja kita langsung jadi (dan gratis!).

Di cerita pertama birokrasi begitu mudah karena ada kepercayaan disini. Untuk ganti alamat, misalnya, kita tidak perlu menunjukkan bukti yang menunjukkan kita benar-benar sudah pindah alamat, dan kita benar-benar tinggal di alamat baru yang kita berikan. (Contoh lain, dahulu, mendapatkan SIM Jepang relatif mudah. Apabila kita sudah memiliki SIM, SIM tersebut tinggal dilegalisir, lalu kita tinggal ujian saja, tidak perlu ikut sekolah mengemudi yang mahalnya minta ampun. Sekarang? Saya tidak tahu kota lainnya, tapi polisi di prefecture (=provinsi) saya tidak percaya SIM Indonesia. Meskipun sudah dilegalisir, mereka tidak percaya kalau SIM tersebut kita peroleh karena kita benar-benar mampu…). Di cerita kedua, imigrasi Jepang yang cenderung tidak percaya dengan semua informasi yang diberikan oleh warga negara asing akan berubah sikap bila kita menyerahkan dokumen asli keluaran Jepang, sehingga proses pengurusannya menjadi begitu mudah dan cepat.

Kepercayaan memang mempermudah segalanya. Selama saya ijin sakit misalnya, saya tidak pernah diminta menunjukkan surat keterangan dokter. Begitu pula istri saya yang bekerja di sebuah perusahaan di Jepang. Kalau sakit tinggal minta ijin lewat telpon. Tidak perlu bukti macam-macam. Bayangkan kalau tidak ada kepercayaan di sini. Sudah sakit masih harus repot mencari surat keterangan dokter jika ingin absen. Bayangkan pula jika banyak beredar dokumen palsu atau aspal di sekitar kita. Betapa banyak bukti pendukung yang akan diminta untuk menunjukkan bahwa informasi yang kita berikan itu benar. Betapa merepotkannya. Pindah rumah harus ada surat keterangan dari RT. Surat dari RT bisa dipalsu? Lalu minta bukti surat keterangan dari tetangga. Surat keterangan dari tetangga bisa dipalsu? Ya nanti ditambah surat keterangan dari tetangganya tetangga, hahahaha…..

Tidak melulu urusan yang berbau birokrasi. Dalam hubungan dengan pasangan kita misalnya, jika tidak ada kepercayaan, betapa merepotkannya? Pergi ke luar kota harus menunjukkan bukti, kemana & dengan siapa kita pergi, ngapain saja kita disana, setiap 5 menit harus telpon, HP harus hidup agar mudah dicek setiap saat, dll…

So, mari kita bangun kepercayaan di antara kita. Bekerja yang jujur, katakan apa adanya. Jangan ada lagi dusta-dusta di antara kita. Stop dokumen palsu sekarang juga… Jangan sampai kita jadi bagian dari semua dusta yang ada…

Baca juga:

Kepercayaan janganlah disalahgunakan

Menyediakan jasa pembuatan dokumen palsu

7 Responses to “Kepercayaan Itu Mempermudah Segalanya

  • wah kalau jepang saya percaya karna orangnya profesional. wah kalau di indonesia berat nie..kultur budayanya parah 😀

    afie: sebenarnya hanya oknum…

  • Berandai Indonesia kapan bisa profesional seperti ini ya?
    Selamat ya buat mas Afie sudah resmi jadi alien-nya hehe..

    afie: Jepang memang omoshiroi..

  • iya di indonesia yg dianggap kultur budaya yg gtu2 itu sih.. [kata mas badoer diatas lo..salam kenal mas badoer 🙂 ] makanya budaya yg luhur di pungut malaisia ] he..ayo pak afie bw kultur budaya indonesia yg sesungguhnya jadi duta bangsa lo dsitu 🙂 meski g pke dokumen sbgai duta, klo pke malah palsu jangan2 🙂
    iduy.staff.uns.ac.id

  • mohon ijin link blog nya..suwun seblomnya

    afie: silakan, Pak, blognya njenengan sudah saya link sejak dulu kok… 🙂

  • yang terjadi di indonesia, banyak oknum yang memanfaatkan kepercayaan.. tidak sedikit pula atasan yang memanfaatkan bawahannya hehe.. tapi tidak semua, ketika saya mengurus paspor tidak sulit hanya butuh beberapa surat dah beres, cuman 2 hari lagi, karena saya minta cepet.

    afie: banyak oknum, dan oknumnya BANYAK..hehe

  • RT-RW nggak ada ya di sana.
    kalau saya hidup di sana nggak bisa menjabat sekjen rt seperti sekarang.

    afie: justru Jepang (kalau tidak salah) yg memperkenalkan sistem RT-RW di Indonesia. Di Jepang RT-nya ada, kegiatan kerja bakti juga ada, rutin malah.

  • kalau membuat sim Jepang SIM indonesia bisa di buat sebagai rujukan ?tapi gmana kalau sim saya dah expired gmana ya ?masih bisa digunakan ga? mohon infonya

    afie: saya akan tuliskan cara mendapatkan SIM Jepang, Mas, sabar, ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar