Memesan Kue Ulang Tahun
Kebetulan kami berencana merayakan ulang tahun pertama Aiko, putri pertama kami, besok Sabtu, InsyaAllah. Bukan perayaan besar kok, kecil-kecilan saja. Yang diundang hanya teman-teman sesama WNI, terutama yang punya anak kecil (Wah, gak kebayang bakalan seheboh apa nantinya). Ohya, FYI, di Jepang, perayaan ulang tahun, apalagi mengundang banyak orang, itu tidak lazim. Nah, dalam rangka perayaan tersebut, kami memesan kue ulang tahun di toko roti dekat rumah kami. Lalu apa uniknya cerita ini?
Yang unik adalah, setelah kami mengutarakan niat kami untuk memesan kue ulang tahun dan memilih kue mana yang kami inginkan, si pemilik toko kemudian mengambil secarik kertas, lalu menanyakan dengan ramah kapan kue itu dibutuhkan, jam berapa diambil, dan tulisan apa saja di kue tersebut. Setelah itu, kami menanyakan masalah lilin, ternyata lilin ulang tahun sudah termasuk bonus. Lalu sudah, “Oke, kami paham”, begitu katanya. Dan selesai.
Selesai? Begitu saja? Tidak ada tanda bukti atau uang muka atau apa?
“Adakah ada tanda bukti pemesanan?”
“Oh, tidak perlu.”
Hah, tidak perlu? Lalu bagaimana dengan uang pembayaran? Apakah butuh uang muka atau harus dibayar di depan?
“Oh, uangnya nanti saja ketika mengambil kuenya”.
Lalu saya menoleh ke istri, istri saya juga memandang saya dengan penuh kebingungan. Melihat kami masih berdiri di depannya, pemilik toko dengan wajah sangat ramah mengambil sebungkus kue dan diberikannya kepada istri saya, “Ini, servis, gratis, silakan dicoba…”. Hehehe, weee…malah dapat gratisan kue.
Dalam perjalanan pulang, saya dan istri berdiskusi sejenak tentang pemilik toko kue tersebut. Pertama, dari wajah jelas kita orang asing. Kedua, kita sama sekali belum saling kenal. Dari dua alasan ini saja, kami cukup heran kok pemilik toko tersebut begitu mudah percaya. Misalkan saja, kita tidak jadi ambil kue itu, apa dia tidak rugi (kuenya terbuang percuma)? Apa dia tidak takut hal kayak gini terjadi, ya? Yang jelas, kota saya memang bukan kota besar. Tingkat kriminal sangat rendah, dan atmosfer “saling percaya dan menjaga kepercayaan” di masyarakatnya masih sangat kental.
Tapi yang jelas kejadian ini adalah pengalaman sekian kami tentang mudahnya beraktivitas jika ada landasan saling percaya. Di supermarket, misalnya, kita dapat meminjam kereta bayi (Kereta bayi di supermarket ada dua, model biasa dan model bagus. Yang saya ceritakan ini yang model bagus alias mahal, harus pinjam ke bagian layanan pelanggan), dan untuk itu kita tidak perlu menunjukkan identitas apapun. Kadang hanya diminta menuliskan nama, that’s it! Ketika membeli barang via online, misalnya, kami sering menggunakan layanan uang dibayar via transfer SETELAH barang datang. Pernah kami menanyakan, apakah tidak takut kami “ngemplang”? Jawabannya, sederhana, ah, kita saling percaya saja… Pertanyaan selanjutnya, apa pernah ada pembelinya yang ngemplang? Jawabannya sungguh menambah ketakjuban kami…yaitu “belum pernah”… *smile*
Cerita ini memang masih berkaitan dengan tulisan tentang kepercayaan. Jadi, seandainya saja kita semua bisa dipercaya dan mau menjaga kepercayaan, maka tidak akan sulit untuk menumbuhkan sifat saling percaya di antara kita. Jika kita saling percaya, semua urusan jadi mudah, tidak perlu administrasi yang mbulet berlipet. Sebagian besar rakyat Jepang seperti itu. Memang ada yang nakal, tapi mayoritas jika diberi kepercayaan akan memegang teguh kepercayaan itu sebaik-baiknya (sikkari). Hebat, bukan? Padahal beragama saja tidak *smile*. Sebagian besar rakyat Indonesia mampu juga dong seperti itu, iya, kan? Bahkan seharusnya lebih dari orang Jepang. Masak kalah sama Jepang. Sebagian besar dari kita kan beragama *smile*. So, mari kita mulai dari diri sendiri, untuk selalu menjaga kepercayaan dari orang lain. Memperbaiki negara ini paling mudah dimulai dari memperbaiki diri sendiri. Salam cinta Indonesia.
(hehehe, sok tua, sok dewasa, sok ngasih nasehat, maaf ya….:p)
Baca juga:



Wew pertamax ya saya?? hehehe…. Saya suka banget sama template ini, ijo nya keren….
Comment by - s L i K e R s - | January 9, 2009
sisanya kirim ke semarang ya…hehehe
Comment by gus | January 9, 2009
Hi Aiko,
selamat ulang tahun ya…wish U all the best…
Comment by ayik | January 9, 2009
Betul Mas, istri saya sering bilang kalau kepercayaan bagi mereka adalah segalanya sama halnya dengan “Packaging is Everything”. Mereka kalau ngasih sesuatu pasti dibungkus dengan luar biasa bagusnya… saya malah sering berpikir kalau bungkusnya pasti lebih mahal dari isinya hehehe…. Mas, link-nya sudah saya tautkan ya, thanks.
Comment by Jay | January 9, 2009
Bisnis berbasis kepercayaan, sebuah investasi yang mahal..
Comment by Arief Fajar Nursyamsu | January 9, 2009
Share pengalaman pribadi…
Pas ngisi bensin di sebuah SPBU…
Setelah terima uang kembalian, saya nutup tangki motor. Ngitung kembalian itu, trus manggil mas-mas petugas pom, “Mas, sekedhap, Mas…”.
“Napa.?? Mang etung meneh. Mau dite rak eketan..!!!”
“Lha nggih… Punika susuke kokehan. Mosok disusuki seket.”
“O…”
Pelajarannya:
1. Niat baik tidak slalu ditanggapi baik pula…
2. Prasangka buruk slalu berakhir buruk…
Comment by agusdepe | January 9, 2009
tak ada lagi yang bisa
mewakili rasa duka yang mencabik rasa
membebat jiwa membunuh nilai mulia
karena tlah kering air mata
telah habis pula kata-kata
hanya satu saja tersisa
sepenggal doa
sebait asa
agar Engkau yang Maha Kuasa
menurunkan apa yang kami Minta
Allahuma… Binasakan Yahudi…!
Allahuma… hancurkan mereka
Allahuma… pecah belah persatuan mereka…!
Allahuma… liputi diri mereka dengan azab-Mu
duhai Palestina…
betapa lemah keadaanku kini…
tak mampu aku menampung dukamu
tak bisa aku meredam laramu
membelai luka nestapamu
apa yang bisa aku mampu menolongmu
mungkin ini bisa membantu
menyebarkan gambar kebejadan
nurani binatang , bangsa kera biadab…
YAHUDI BINASA
slm kenal…
Comment by mujahidcilik | January 9, 2009
Pelajaran yang sangat baik mas
Bisnis yg dilandasi kepercayaan adalah niat baik dari penjual tersebut, karena itu jangan sampai dikhianati. Sekali dikhianati, maka dia tidak akan pernah mempercayai lagi.
Yang kedua dia menservis dengan sangat baik. Dijaman sekarang yg begitu ketat persainagn bisnisnya, maka service menjadi kata kunci.
Comment by Erik | January 9, 2009
selamat ultah utk putrinya, mas. apa kebanyakan orang jepang memang mudah percaya gt mas? hebat yak
Comment by haris | January 9, 2009
untuk ultah aku ya mas
Comment by thevemo™ | January 9, 2009
bener sekali mas,kepercayaan berawal dari kejujuran dan itu merupakan modal utama dalam hidup, seseorang akan percaya jika kita jujur…, oke selamat buat familynya
Comment by ade | January 9, 2009
bos kuenya masih? hehehe btw slamat ultah buat putri pertamanya mas
Comment by atmo | January 9, 2009
Wah,,, kalo di Indonesia ada toko yang seperti itu… bisa2 rugi deh…
yup… dari sekarang kita mulai coba menjaga kepercayaan dari orang lain…
Comment by BlaGaBloGer | January 9, 2009
hehehe… jadi inget beberapa tahun yang lalu, ada exchange student dari Swiss jajan di kantin Mawar di RSDM, pas mau bayar ga ada kembalian, sama ibunya disuruh pegang lagi, n baru bayar nek udah ada uang kecil. Bulenya melengak ga percaya “Are you sure?”
Hampir sama ya?, tapi salah satu faktor kepercayaannya mungkin karena aku pake jas coass waktu itu hehehe, ga tau nek ama pembeli yang lain yah…
Comment by Luluch | January 10, 2009
Selamat Ulang tahun….
Comment by ciwir | January 11, 2009
Lha iyo to, kapan ya Indonesia bisa begitu….
Comment by Julie | January 13, 2009
mana fotonya pak, *yang digravatar ya*
selamat ulang tahun aiko……..
jangan nakal ya, jadi orang pinter kaya bapaknya
Comment by bias | January 13, 2009