Diagnosis Infeksi Virus Polio

Seperti infeksi virus pada umumnya, pada fase awal penyakit infeksi virus polio sulit didiagnosis jika hanya dari melihat gejala klinisnya saja. Selain itu, infeksi virus polio sendiri pada fase awal juga dapat tanpa disertai gejala klinis apapun (asimptom). Untuk membantu diagnosis dibutuhkan pemeriksaan serologi atau diagnosis molekular (dengan PCR). Virusnya sendiri paling mudah diisolasi dari nasofaring atau feses. Pada kasus yang disertai invasi pada sistem syaraf pusat, pemeriksaan cairan serebrospinal dapat membantu diagnosis. Di daerah yang sedang mengalami atau baru saja terjadi endemi polio, jika ada laporan kasus lumpuh layuh (paralisis flaksid) akut, maka dua spesimen feses harus dikumpulkan dalam waktu 14 hari sejak awal terjadi paralisis, dan harus dilakukan isolasi virus. Itu artinya, pada kasus-kasus yang pertama muncul, infeksi virus polio ini sering tidak terdiagnosis dengan baik, terlambat, sehingga terjadi kematian atau sembuh dengan gejala sisa.

Diagnosis banding untuk kasus lumpuh layuh akut adalah infeksi virus polio, infeksi virus non-polio (enterovirus 71, coxsackievirus A7, Japanese encephalitis virus, West nile virus, tick borne encephalitis virus, virus rabies, dll), infeksi Borrelia, Mikoplasma, Difteri, Botulismus, tetanus, neuropati (polineuropati inflamasi akut, neuropati aksonal motor akut, keracunan logam berat), gangguan syaraf tulang belakang (mielitis transversal akut, kompresi syaraf tulang belakang akut, trauma, infark), miastenia gravis, dan gangguan otot (miositis).

Kesimpulannya, diagnosis infeksi virus polio tidak mudah, membutuhkan pemeriksaan laboratorium, terutama untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis yang lain.

Baca juga:

Sekilas tentang penyebab polio (virus polio)

Perjalanan penyakit polio

Invasi virus polio pada sistem syaraf pusat

Sindroma paska polio

Cara penyebaran virus polio

Respon imun terhadap infeksi virus polio

6 Responses to “Diagnosis Infeksi Virus Polio

  • masih setia pd folio ya?

  • Waduh…DD-nya banyak amat yah. Trus pemeriksaannya pake PCR segala. Bukane itu mahal dok? Kira-kira dah masuk Jamkesmas gak ya…hwehe…

    afie: ya memang nanti ujung-ujungnya mencegah lebih baik daripada mengobati…:)

    BTW, ini blog juga buat mahasiswanya dokter yah. Lha berarti aku harus sering2 mampir kalo gitu. Siapa tahu ada mahasiswi yang kepincut. 😀

    (sambil clingak-clinguk…jangan2 pacarku juga baca komentarku ini)

  • Wah iya tuh.. tmN ada yG kna Folio gak bisa di obati ya.??

  • Kalau telat imunisasi yang keempat, sampe sekarang belum, tapi udah pernah imunisasi sampe yang ketiga. terus bagaimana, pak? thanks

  • klo ngeliat ukurannya sih, jelas besaran folio daripada kwarto…lhoo?

  • achhhhh polio…..
    itu yg trjadi pd saya 30 thn yg lalu…..
    walu sekarang kaki sy pincang……
    tp sy BERSYUKUR krn ortu tdk malu pnya anak yg kena polio yg mengakibatkan kaki kiri pertumbuhanny lambat….
    Ortu memberikan pendidikan di sekolah formal dr SD – Kuliah
    ‘n bisa bekerja seperti orang yg normal
    TERIMAKASIH TUHAN….
    TERIMAKASIH IBU “N BAPAK KU
    TERIMAKASIH ADIK2 KU….ADE ‘n OMAN
    TERIMAKASIH TEMEN2 dari SD-KULIAH
    TERIMAKASIH PD TEMPAT SY KERJA YG BERSEDIA MEMPEKERJAKAN SAYA…….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar