Terapi Infeksi Virus Polio

Terapi atau tata laksana infeksi virus polio saat ini masih belum berubah dari jaman saya kuliah dulu, yaitu terapi suportif ketika ada tanda invasi pada sistem syaraf pusat. Pada fase awal infeksi, sering tidak menimbulkan gejala. Jika menimbulkan gejala, sering disalahtafsirkan sebagai influenza, dan pemeriksaan laboratorium pada tahap ini tidak lazim dilakukan. Perhatian biasanya baru diberikan jika terjadi tanda invasi pada sistem syaraf pusat. Pada saat itu penanganan dapat dikatakan sudah terlambat. Seperti lazimnya virus yang menginfeksi sel syaraf, sekali masuk ke sel syaraf, (untuk saat ini) nyaris tidak ada lagi yang dapat kita lakukan.

Adakah antivirus untuk virus polio? Ada beberapa antivirus yang dibuat untuk melawan Enterovirus, termasuk virus polio ini. Win compound dan derivatnya dibuat untuk mencegah virus menempel pada sel yang akan diinfeksinya. Pleconaril atau VP 63943 sudah masuk uji klinis fase II. Enviroxime yang terbukti mampu menghambat infeksi Enterovirus in vitro, ternyata toksis dan tidak efektif pada manusia. Pyrrolidine dithiocarbamate terbukti mampu mengatasi infeksi virus polio in vitro namun aktivitas in vivo-nya belum diketahui. Yang paling baru adalah usaha pemanfaatan siRNA (small interfering RNA) yang memberikan hasil yang menjanjikan pada uji in vitro. Kesimpulannya, antivirus untuk virus polio belum ada yang dapat dipakai di dunia klinis. Semuanya masih dalam tahap uji in vitro sampai uji klinis fase II. Selain antivirus, terapi interferon juga dilirik. Namun lagi-lagi, masih dalam tahap uji in vitro. Yang saat ini sering digunakan adalah pemberian immunoglobulin pada fase awal penyakit, untuk mencegah terjadinya poliomielitis, terutama pada pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh. Sayangnya, pemakaian immunoglobulin ini tidak lazim untuk pasien “biasa” (yang tidak mengalami kekebalan tubuh). Apalagi, seperti tertulis di atas, pada fase awal infeksi virus polio sering tidak terdiagnosis.

Pasien yang menunjukkan gejala paralisis akut karena polio harus bed rest (istirahat dengan posisi berbaring) total untuk mencegah bertambahnya paralisis yang terjadi. Seperti protokol untuk pasien bed rest total pada umumnya, perlu dilakukan pencegahan terjadinya kontraktur dan kaku sendi. Kalau perlu lakukan intubasi dan berikan alat bantu nafas karena gagal nafas dapat terjadi secara cepat. Jika tampak adanya kelemahan bulbar yang nyata, mungkin diperlukan pula trakeostomi untuk mempertahankan aliran nafas.

Jika fase kritis telah terlewati, maka fokus terapi berupa mobilisasi untuk mencegah deformitas pada alat gerak yang terlibat. Fisioterapi perlu dilakukan secara intensif untuk mengembalikan kekuatan dan fungsi otot yang terlibat. Kadang diperlukan pula alat bantu untuk mengkompensasi fungsi alat gerak yang terlibat.

Daftar pustaka:

Howard RS. 2005. Poliomyelitis and the postpolio syndrome. BMJ. 330:1314-1318.

Pallansch M and Roos R. 2007. Polioviruses, Coxsackieviruses, Echoviruses, and Newer Enteroviruses. In: Knipe, DM and Howley, PM (eds).  Fields Virology, 5th Edition. Lippincott Williams & Wilkins.

Baca juga:

Sekilas tentang penyebab polio (virus polio)

Perjalanan penyakit polio

Invasi virus polio pada sistem syaraf pusat

Sindroma paska polio

Cara penyebaran virus polio

Respon imun terhadap infeksi virus polio

Diagnosis infeksi virus polio

10 Responses to “Terapi Infeksi Virus Polio

  • Kalo tidak salah,kortikosteroid kan bermanfaat untuk mengurangi nyeri post herpes zoster.Apakah hal ini bisa jg diaplikasikan pada polio yg notabene menyerang saraf jg?

    afie: patogenesisnya beda, Dok. Mau dibahas-kah? Nanti mbok sindir bahasa planet…:p

  • folionya masih berlanjut to…..

  • wah, bagus sekali info nya ttg polio. oh ya, alat bantu utk Post Polio Paralysis ada diblog saya lho.. silakan mampir.. http://www.kuspito.co.cc (english Article) http://www.kakipalsu.co.cc (Bahasa Indonesia)

  • links exchange dong.. thanks

  • folio….oh no

  • wahh memang mengerikan ya penyakit ini…hiks…banyak kasus terjadi di pedalaman karena kurangnya pengetahuan dan sarana kesehatan..

  • Bajunya dikirim ke kalimantan aja dok..hahaha..Woh,dah maw pulang kampung to?Jangan lupa oleh2nya ya dok. 😀 Tak doakan semoga penelitannya sukses deh.Kalo UNS tenar kan aku bangga jg.Semangat! 😀

  • banyak hal yg membuat dq jadi tau tentang virus polio..makasih dok

  • weleh weleh weleh…
    ck ck ckk…
    grrrr,,,

    jadi pingin ngikutin jejak dokter neh,,
    pingin ikutan yang kmrn di promosiin juja,,
    tapi ya moga2 syaratnya bisa dipenuhinnnnn… aamiin deh

  • dumbretto
    8 years ago

    dok, tanya.
    tapi gak nyambung sama polio.. kwarto ajah,, halah
    HIV sama EBV setau saya sama2 nyerang limfosit,, sistem kekebalan,,
    kok selama ini yang jadi perhatian cuma HIV???
    kurang keren apa sih EBV?
    (maap kalo pertanyaannya menggelikan,,maklum semester 2)
    mksiiii

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar