Perjalanan Pulang ke Indonesia

Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di rumah dengan selamat. Perjalanan pulang kali ini berbeda dengan perjalanan pulang sebelumnya, karena kali ini benar-benar pulang, bukan untuk liburan. Ceritanya, studi saya di Jepang telah selesai, karena itu harus pulang ke Indonesia.

Problem yang pertama adalah jumlah barang yang dibawa pulang. Kami sudah mengirimkan 12 karton dengan total volume satu koma sekian meter kubik dengan berat total sekian ratus kilogram via kapal. Eh, ternyata masih banyak barang yang belum terkirim. Akhirnya, terpaksa menggunakan jasa EMS. Dan, eh, ternyata masih banyak barang yang sayang jika dibuang. Masalahnya, jatah bagasi saya “hanya” 90 kg, dan 3/4-nya sudah habis untuk jatah bahan-alat-reagen untuk penelitian di Solo. Walhasil, kita memakai strategi renteng-renteng….barang yang tidak masuk koper dimasukkan ke dalam tas kecil-kecil agar dapat masuk ke kabin.

Eh, ternyata, jumlah tas kecil2 tersebut begitu banyaknya sehingga menjadi sangat merepotkan. Akhirnya, terpaksa kita beli beberapa koper kecil lagi untuk mengurangi jumlah tas kecil rentent2 tadi. Dan eh, ternyata tas yang kami beli ukurannya terlalu besar untuk masuk kabin…

Problem selanjutnya adalah, mungkin karena terlalu stres dan terforsir mempersiapkan segala sesuatu untuk pulang, saya jadi sakit, begitu pula istri, dan Aiko. Sakitnya Aiko membuat semua rencana menjadi berantakan. Aiko kalau sakit akan menjadi sangat rewel. Rewelnya Aiko ini membuat mama-nya menjadi tidak berkutik. Tidak berkutiknya mama-nya Aiko ini membuat proses membawa tas renteng-renteng di atas menjadi lebih merepotkan. Padahal, baik istri dan saya juga sakit…

Alhamdulillah ada tante yang membantu dan menemani sampai bandara Kansai. Tante cukup membantu dalam mengurangi repotnya membawa tas renteng-renteng tersebut. Tapi begitu melewati pemeriksaan barang, tante tidak dapat menemani kami lagi. Karena ribetnya, kami sampai di boarding room pukul 10.00 waktu Kansai (tepat dengan jadwal boarding kami karena kami membawa baby car sampai ke pesawat). Untungnya dan juga apesnya, jadwal keberangkatan ditunda beberapa menit. Untung karena itu berarti kami sempat beristirahat, minum dan ke kamar kecil. Apes karena itu berakibat jadwal tiba di Denpasar menjadi lebih molor lagi.

Ohya, tentang strategi tas kecil renteng2 di atas, berhubung dua tas ‘kecil” yang kami bawa dianggap terlalu besar untuk dibawa ke kabin, terpaksa dua tas kecil tersebut dimasukkan ke bagasi…

Selama di perjalanan, Aiko yang sedang sakit sangat rewel sekali. Apalagi, beberapa kali pesawat terbang dalam cuaca yang kurang baik. Akibatnya Aiko sempat mabuk dan muntah. Benar-benar perjalanan yang melelahkan. Tidak hanya itu, ternyata, jam tiba pesawat di Denpasar menjadi molor 1 jam-an, dari seharusnya jam 4 sore menjadi jam 5.45 sore. Padahal, jam keberangkatan untuk pesawat tujuan Yogyakarta adalah jam 6.15 malam. Sukses deh kami panik.

Dan begitu pesawat mendarat di Denpasar kami langsung berlari, menuju bagian imigrasi, mengambil barang bagasi, dan check-in ulang. Lengkap dengan tangisan rewel Aiko yang lagi sakit. Sudah begitu, ada koper saya yang diberi tanda karena tidak dapat dilihat dengan jelas dengan sinar-X, yang artinya harus dibuka. Untungnya surat-surat sudah saya siapkan (dan khusus untuk pengurusan surat-surat ini, juga membuat stress tersendiri, karena kecerobohan saya, sehingga proses pengurusan dokumen harus dilakukan berkali-kali) dan pihak beacukai sendiri tidak mempersulit.

Setelah sukses melewati imigrasi dan beacukai kami masih harus berlari ke counter Garuda domestik yang jaraknya lumayan juga buat olahraga. Untungnya kami dibantu dua porter (karena membawa 10 tas + 1 baby car itu mustahil buat saya, hehehe). Sampai di counter Garuda sudah ada panggilan kepada penumpang jurusan Denpasar-Yogyakarta untuk segera naik ke pesawat. Eh, ndilalah kok ya ada penumpang yang punya nama sama dengan saya (sama2 memakai nama Agung). Akibatnya sempat terjadi salah pencatatan yang akibatnya membuat delay bagi kami. Problem yang lain adalah, belajar dari pengalaman ketika penerbangan Kansai-Denpasar, maka semua koper yang masuk bagasi di penerbangan Kansai-Denpasar (total 7 koper + 1 baby car) kami daftarkan untuk dimasukkan ke bagasi. Padahal, jatah 90 kg hanya cukup untuk 5 koper saja (di Kansai, 2 koper tambahan sukses dimasukkan ke bagasi karena permintaan pramugara ketika kami sudah berada di DALAM pesawat, sehingga tidak kena extra charge). Untungnya, tidak ada masalah berarti ketika check in (terima kasih istriku…hehehe).

Akhirnya, sampai juga kami ke pesawat. Ketika kami memasuki pesawat jurusan Denpasar-Yogya tersebut, tempat duduk sudah penuh. Begitu kami duduk pesawat langsung diberangkatkan. Itu artinya, pesawat memang hanya menunggu kami-kami yang tiketnya Jepang-Yogyakarta saja. Eh, ndilalah kok tempat duduk istri dan saya terpisah (FYI: Aiko masih minum ASI, dan satu2nya cara untuk menghentikan tangisan rewel Aiko ketika sakit adalah dengan menyusuinya). Untungnya ada ibu yang berbaik hati untuk tukar tempat duduk. Dan jangan lupa, selama perjalanan itu ditemani tangisan Aiko yang lagi sakit….

Di bandara kami sudah dijemput dua mobil. Karena lapar, kami langsung makan malam disebuah rumah makan ayam goreng yang terkenal di Yogyakarta. Eh, dalam perjalan pulang ke Solo kok ndilalah salah satu mohil, yang saya naiki,ย  melindas papan berpaku di jalan. Sempat saya dan adik mencoba mengganti ban sendiri, tapi nyerah ah, mending meminta bantuan pak sopir (yang menyupiri mobil satunya).

Singkat kata, sampai juga di rumah dengan selamat. Yang pertama kali dilakukan istri saya adalah mandi & memandikan Aiko, trus tidur. Sedang saya, meminidahkan ice pack ke dalam freezer dan memindahkan bahan2 penelitian ke dalam kulkas, cek email, nulis blog, nyusun agenda, trus ngeprint bahan untuk menulis proposal. Jika kondisi memungkinkan, InsyaAllah 31 Maret ke kampus. Tapi kalau tidak ya 1 April saja deh ya, sekalian ngambil slip gaji, hehehe. Yang jelas, mulai 2 April sudah banyak agenda menunggu. Tahun ini, data epidemiologi molekular untuk HIV dan HCV di pengguna narkotik suntik di lembaga koreksional di Jatengย  harus sudah selesai. Tahun ini, data epidemiologi molekular virus pernafasan juga harus sudah selesai. Harapannya, tahun depan ada dua publikasi internasional lagi (yang membawa nama UNS, tentu saja). Tahun ini pula, ada dua manuskrip yang harus saya publikasikan (dengan nama UNS di dalamnya, tentu saja). Satu lagi, saya benar-benar berharap plasmid-apoptin yang saya bawa dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Semoga saja RISTEK berkenan mendanai proposal kami (deadline 1 Mei). Ohya, ada ajakan kerjasama penelitian dari NAMRU yang perlu ditindaklanjuti. Semua agenda ini demi go-international-nya UNS. Setidaknya, itulah sumbangan kecil saya untuk UNS.

Di luar itu masih banyak agenda pribadi seperti legalisasi ijasah, ngurus akte kelahiran Aiko, perpanjangan SIM, ASKES, ganti kacamata, ngurus tunjangan fungsional &/ keluarga, ngurus kenaikan pangkat, pasang internet di rumah satunya, ngurus yayasan, ngurus vaksinasi Aiko, ngurus blog, ngurus…

Hiduo kan pada dasarnya ngurus ini dan itu, kan? *smile*

22 Responses to “Perjalanan Pulang ke Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar