Kambing Hitam

Salah satu kebiasaan kita adalah mencari yang hitam-hitam, terutama kambing, kalau ketahuan melakukan kesalahan. Sebagai contoh, ketika kita terlambat, kita cenderung menyalahkan lampu bangjo, kendaraan lain yang tidak mau memberi jalan, bahkan temen/sodara kita pun bisa kena semprot karena ikut andil menyebabkan keterlambatan kita baik secara langsung maupun tidak langsung. Padahal, kalau dirunut-runut, yang salah ya sebenarnya kita juga, kan? *smile*

Omong-omong masalah terlambat, jadi ingat pengalaman di Jepang. Terlambat adalah sesuatu yang sangat tabu di Jepang. Tidak peduli apapun alasan yang akan dipakai sebagai pembenar keterlambatan kita, terlambat adalah terlambat, titik. Karena itu, bagi yang akan ke Jepang atau baru saja tinggal di Jepang, segeralah beradaptasi dengan budaya on-time, dan segera tinggalkan budaya jam karet. Di Jepang, janjian pukul 13.00 itu berarti 13.00, bukan 13.01. Jangan kaget kalau kita telat beberapa menit sudah ditinggal. Batas pengumpulan berkas jam 17.00 itu berarti jam 17.00 bukan 17.01. Jangan kaget meskipun hanya telat beberapa menit berkas kita benar-benar ditolak.

Kembali ke masalah kambing hitam. Sebenarnya saya kasihan juga sama kambing, karena selalu dituduh yang enggak-enggak. Tapi lebih kasihan lagi bangsa ini, kalau budaya nggak mutu ini terus dipelihara….oleh kita semua. Apa sih susahnya mengakui kesalahan sendiri? Apa sih susahnya berintrospeksi? Jika melakukan kesalahan, akui saja, dan segeralah minta maaf. Jika ada konsekuensi yang harus kita terima karena melakukan kesalahan tersebut, ya diterima dong, apalagi kalau mengaku sudah dewasa. Dan yang paling penting, segeralah berintrospeksi, agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi. Gitu saja kok repot. Apa memang betul repot?

Yang jelas, selama di negara kita tercinta ini, saya kok jarang sekali mendengar permintaan maaf. Di Jepang, sering sekali ada siaran pers permohonan maaf dari pemimpin itu, bos perusahaan anu, dll. Di kehidupan sehari-hari pun, teramat sangat sering mendengar kata “maaf” diucapkan oleh orang-orang di sekitar saya.  Kalau mereka bisa, masak kita nggak bisa sih? Masak siaran TV kita kebanyakan isinya, “si A menyalahkan si B dan si C”. Di kehidupan sehari-hari mudah sekali mendengar, “ini salah kamu, dia dan mereka”… dan jarang sekali ya yang mengatakan, “ini salah saya, saya yang bertanggung jawab”… (saya bukan pendukungnya, tapi salut buat pak JK yang “kabarnya” menyatakan bertanggung jawab atas jebloknya perolehan partainya. Sikap yang patut dicontoh oleh pemimpin lainnya)

So, ini ajakan buat saya pribadi dan sahabat semua, mari kita stop kebiasaan mencari kambing hitam. Mari kita belajar mengakui dan bertanggung jawab atas kesalahan yang kita buat. Langkah kecil dan sederhana untuk memperbaiki bangsa kita tercinta. Anda setuju?

16 Responses to “Kambing Hitam

  • he he he iya mas, kalau dicari terus, kambing hitam lama lama bisa punah.

    Gimana mas? sudah sehat dan bertugas lagi?

  • kasihan si kambing,
    kita ganti si anjing aja yuk !! trus dibeleh….
    “maaf” bila gak doyan, tapi enak hehehe…

    salam kenal mas !

  • Yah, kasihan si kambing jadi ikut kena sasaran.
    Tapi untungnya dia gak sendiri. Banyak temannya sesama binatang yang juga dipinjam namanya buat hal hal yang berkonotasi negatif ataupun sesuatu yang gak enak.
    Ada buaya darat.
    Ada ayam kampus.
    Ada lintah darat.
    Ada kupu kupu malam.
    Sebagian lagi masih cukup terhormat, diantaranya
    kesemutan.
    khabar burung.
    dikadalin.

  • segera beraksi bukan menunggu dimulai orang lain juga salah satu hal yang masih jarang ditemukan di negara ini.

    pengakuan kesalahan merupakan sikap kalo seseorang punya hati yang kuat.

  • hmm..yaa.. kebudayaan jepang tuuh emang patut di acungin berpuluh2 jempol….

    kapan indonesia bisa kek gituu??

  • siap melaksanakan dari diri sendiri

  • mamahnya nikeisha
    9 years ago

    culture shock ya dok?
    aku aja yg nggak pernah keluar dr indo lama2 bosen liat orang2 saling nyalah2in, apalagi dirimu yg baru kembali dr jepang 🙂
    welcome back… mudah2an nggak ikut ketularan budaya indo ya.

  • Di Jepang ada yang melihara kambing di lapangan gak dok? Ealah… 😀

  • Mending nonton kambing jantan. hehehe…

  • kapan????
    pertanyaan yang mgkin sulit dijawab apalagi yang berhubungan dengan waktu, di Indonesia pula. . .
    hahahaha. . .
    yang pasti. . mulailah dari diri sendiri. . .

    tapi kalo bicara soal kambing. .

    kambing ijo ada gak ya??????

    wkekeke. . .

  • Yah selamat datang di Indonesia (lagi), saling menyalahkan, lempar tanggung jawab itu sudah menjadi budaya di negeri ini..silahkan bagi yang tidak setuju dengan kalimat saya ini, namun pada kenyataannya masih begitu kok…

  • Wah.. jadi ikut tertuduh nih…
    masalahnya tiap hari urusannya sama kambing melulu
    tapi gak hanya yang hitam, ada putih, ada coklat, dan ada yang warnanya campur2….
    He…he…he…

  • mas, kebetulan di tempat saya jarang yg cari kambing hitam, disini sering cari kamput mereka 🙂

  • waaa…dr. afiano ternyata doyan nge-blog juga hehehehe

    berasa dr gaul d

    hehehhee

    kayaknya dokter suka banget ya di jepang….

    ampek detil-detilnya jepang juga ditulis…

    sekilas kuliat judulnya, kebanyakan jepang

    semenarik itukah????

    salam kenal dok…..

    hehehheeh

  • waah… saya mah setuju banget. Mari budayakan maaf (kalo memang kita salah) 🙂

  • kambing hitam????
    pa mungkin kambing tersebut semuanya bewarna hitam???
    hmhm… 😮

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar