Afie’s

doctor-lecturer-virologist-microbiologist-molecular biology

Belajar Menghargai Waktu

Tulisan ini sedikit ada hubungannya dengan cerita sebelumnya. Mungkin ada yang akan berkomentar saya sedang gegar budaya, tapi sebenarnya tidak juga, karena toh kebiasaan menghargai waktu ini bukan milik bangsa manapun. Sebagian besar mereka yang ada di lingkungan saya, misalnya, sangat menghargai waktu. Bapak saya misalnya (Jawa/Solo asli), acara jam 07.00 beliau sudah di tempat jam 06.45. Begitu juga dengan banyak sahabat yang saya kenal. Hanya saja, di tempat kita, memang masih banyak yang belum sadar bagaimana menghargai waktu. Seperti yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu, undangan jam 19.00 tapi acara baru dimulai pukul 20.30….wadaw….(yang tersindir semoga tersindir, hehehe).

Saya jadi tertarik menulis di blog ini karena kebiasaan jam karet ternyata juga mudah ditemukan di lingkungan akademis. Betapa undangan rapat begitu biasa “molor” 1 jam. Betapa kuliah atau tutorial seperti “sengaja” dimolorkan beberapa menit. Saya tahu prioritas masing-masing individu itu berbeda, tapi saya yakin kita sama-sama sepakat, waktu yang hilang tidak akan pernah kembali. Dengan kata lain, waktu itu berharga, sodara-sodara…

Saya ingin sedikit cerita bagaimana waktu (seharusnya) dihargai di dunia akademis (di luar negeri, antara lain di Jepang). Ketika janjian pukul 17.00 maka biasanya kita sudah berkumpul 5-10 menit sebelumnya. Hebatnya, semua peserta janjian tersebut memiliki arloji yang menunjukkan jam yang sama, tidak ada yang kelebihan atau mundur beberapa menit. Begitu tet 17.00 acara dimulai, tanpa basa-basi, dan biasanya dimulai dengan kalimat “karena waktu sudah menunjukkan pukul…”. Jika dijadwalkan acara berlangsung selama 2 jam, maka begitu pukul 19.00 acara akan ditutup, tanpa basa basi, tidak peduli seberapa heboh diskusi yang terjadi, dan lagi-lagi diawali dengan kalimat “karena waktu sudah menunjukkan pukul…”.Begitu juga dengan dead-line pengumpulan berkas. Dikumpulkan paling lambat jam 17.00 ya berarti jam 17.00, bukan jam 17.01 apapun alasannya.

Dan masalah on time ini tidak hanya ditemukan di dunia akademis, tapi juga di semua kehidupan. Di Jepang, untuk bertamu ke rumah orang lain, biasanya pakai acara janjian. Ini dilakukan untuk menghargai waktu orang lain. Dan meskipun acaranya hanya dolan untuk ngobrol, tapi datang pasti on time. Telat 1 menit saja sudah cukup untuk membuat yang punya rumah menelpon untuk konfirmasi atau tidak enak hatinya. Uniknya pula, meskipun ngobrolnya seheboh apapun, dalam 1 jam (maksimal 2 jam) mereka akan pamit pulang. Jadi belum pernah saya punya tamu orang Jepang yang ngobrol sampai larut malam atau berjam-jam. (Eittt, bukan berarti semua orang Jepang seperti ini. Kaum muda Jepang mulai banyak yang suka ngobrol berjam-jam). Jam keberangkatan bis/kereta misalnya, jadwalnya sangat aneh untuk saya karena sering “tidak genap”. Sangat umum menjumpai jam bis/kereta berangkat seperti ini: 15.17, 16.23, 12.03, dst. Biasanya, waktu tunggu untuk penumpang berkisar 1 menit. Hanya di stasiun-stasiun besar lebih dari 1 menit. Itu artinya, penumpang yang menunggu bis/kereta, dan tidak ada cerita bis/kereta menunggu penumpang. Itulah kenapa tidak sulit menjumpai kereta/bis jalan dengan keadaan kosong penumpang…

Sekali lagi ini bukan karena gegar budaya. Cerita ilustrasi di Jepang hanya menggambarkan bahwa ada kehidupan seperti itu, dan bisa jalan (kalau mereka bisa kenapa kita tidak?) sekaligus sebagai bahan masukan bagi mereka yang akan pergi ke Jepang (karena waktu itu dianggap sangat penting di Jepang, so, jika kita dianggap tidak menghargai waktu sama saja kita dianggap berperilaku payah). Bayangkan enaknya kalau semua bisa on-time. Kita tidak perlu takut menyusun jadwal kerja, misalnya. Kalau semua on-time semua rencana bisa lancar. Kalau 1 molor, yang lain ikutan molor atau malah harus ada yang dibatalkan.

Lalu bagaimana cara kita belajar menghargai waktu? Belajarlah untuk memulai dan mengakhiri segalanya on-time. Mulai jam 08.00 berarti jam 08.00 bukan 08.01, tidak peduli berapa jumlah yang hadir. Sekali kita mentolerir keterlambatan maka bisa dijamin pertemuan selanjutnya akan lebih molor lagi karena semua berpikiran “toh paling nanti molor…”. Selesai jam 12.00 berarti jam 12.00 tidak peduli seberapa heboh acara tersebut. Kenapa harus diakhiri on-time juga? Ini akan membuat kita belajar menggunakan waktu secara efisien. Rapat yang berlarut-larut sampai subuh sebenarnya tidak hanya menunjukkan bahwa para peserta rapat pekerja keras tapi juga menunjukkan mereka tidak dapat bekerja efisien. Bisa dipastikan isi rapat tersebut banyak debat, ngotot, dan muter-muternya…

Akhir kata, buat mahasiswa saya. Belajarlah menghargai waktu, mumpung masih muda. Saya saja kadang menyesal karena dulu ketika mahasiswa sering membuang-buang waktu begitu saja. Masak harus setua saya dulu baru sadar pentingnya waktu? Kata orang, orang pintar adalah mereka yang tidak mengulangi kesalahan yang pernah dibuatnya, sedangkan orang yang bijaksana adalah mereka yang tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh orang lain *smile*. Ohya, saya biasanya menawarkan kepada mahasiswa untuk memilih sendiri jadwal dead-line pengumpulan laporan mereka (dalam batas wajar). Tapi ingat, laporan telat 1 menit menurut jam di lab mikro tidak akan diterima, ya… masak dead-line bikinan sendiri dilanggar sendiri….*smile*.

April 21st, 2009 Posted by at 08:04am | Cerita dari Negeri Sakura, Curahan Hati, motivasi | 49 comments

49 Comments »

  1. sebenarnya pingin disiplin juga tapi kok sulit ya …

    Comment by mashardi | April 21, 2009

  2. hmm..
    saya rasa kebiasaan ontime atau tepat waktu itu harus dijalankan secara bersama-sama, soalnya percuma saja kalau hanya kita sendiri yang ontime, sedangkan yang lain tidak…

    emang susah ya…

    Comment by nenden | April 21, 2009

  3. intinya, time management kan|

    Comment by nafisblog | April 21, 2009

  4. waduh merasa tersindir aku mas. kalau ngobrol di hik berjam-jam hehehehe

    Comment by endar | April 22, 2009

  5. nggih, dok ;D adik kos saya ada yang kebagian tutorial sama dr. afie, loh. banyak komentar dia tentang dokter. heheh. sip2! penuh dedikasiiii… ;D saya masih kebagian oleh2, dok? heheh.

    Comment by mulki | April 22, 2009

  6. Jadi merasa tersindir…
    (Wah,,tujuan dokter tercapai deh… Good!)
    Hmmm,,
    Kemarin 1 shift ditegur gara2 dateng lebih dari jam 12.30
    Huft…
    Insya Allah menghargai waktu berarti menghargai kesuksesan!
    ^^

    Comment by icha | April 22, 2009

  7. Sudah membudaya pak, susah untuk dihilangkan. Kita coba datang tepat waktu, eh ternyata yang lain masih belum datang. Jadilah tengak-tengok sendiri tanpa teman.

    Comment by Mufti AM | April 22, 2009

  8. mulai dari diri sendiri

    Comment by Pencerah | April 23, 2009

  9. nagh no, yang kesindir datang (lol)
    ok mas, dicoba. tet di awal dan tet di akhir.
    jadi inget salah satu podcast bisnis wisdom
    soal menghargai waktu.

    Comment by kurnia | April 24, 2009

  10. sepakat, sebenere aku selalu on time…
    tapi temen2 ga ontime, jadi aku ikut2an ga ontime
    jadi intinya saya juga ga ontime, sebenere saya pengen ontime

    Comment by yudi | April 24, 2009

  11. Seperti yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu, undangan jam 19.00 tapi acara baru dimulai pukul 20.30….wadaw….(yang tersindir semoga tersindir, hehehe).

    untung aku rak teko. . .heuheuheu. . .

    Ontime. . barti berangkat sesuai dengan waktunya. . .itu buatku. .he he he. . .

    Comment by arit | April 24, 2009

  12. dulu saya selalu ontime, tapi karna keseringan cape nunggu jadi males kalo mesti ontime
    bayangin aja saya pernah lho..nunggu sampai 2 jam
    padahal saat itu ada banyak hal yang mesti saya lakukan
    tapi karna pertemuan tsb juga sifatnya urgent…
    ya…mau gak mau…ngalah…

    Comment by hanny | April 25, 2009

  13. Begitu hebatnya “waktu” sehingga ada surat khusus dalam Al Qur’an… Demi Waktu…

    Comment by Andy MSE | April 25, 2009

  14. saya orang pintar, tapi tidak bijaksana… sekarang menyesal deh! :D

    Comment by Andy MSE | April 25, 2009

  15. dlm soal memandang waktu, tiap2 kebudayaan memiliki satu sikap tersendiri mas. saya pernah baca artikel bagaimana orang2 di jogja dulu terkenal sangat santai dlm memperlakukan waktu. tak ada yang namanya kesusu, dll. konsepsi ini makin berbeda skrg karena tuntutan modernitas yang makin besar. di desa2, waktu hadir seperti sangat lambat. orang2 di kampung biasa ngobrol berjam2, nongkrong tanpa sadar waktu. tentu saja tak bijak mengecap mereka ini sebagai orang yang tak menghargai waktu. tak ada yg universal dlm soal kebudayaan manusia, termasuk soal waktu. itu yg sy pahami. tapi saya sepakat bahwa sbg manusia modern, kita memang harus menghargai waktu dlm artian “tepat waktu”.

    Comment by haris | April 27, 2009

  16. karena waktu tidak akan pernah menunggu kita barang sedetikpun..

    Comment by tukang Nggunem | April 28, 2009

  17. Ya semuanya itu pasti berhubungan denga waktu, kunci semuanya adalah
    TIME MANAGEMENT

    Comment by zuhud | May 1, 2009

  18. (doh) sering sekali saya menjumpai hal-hal kaya gini, pasti molor… akhirnya saya jadi ikutan “nyepelekne” :D

    Comment by masiqbal | May 1, 2009

  19. [...] sebelumnya disebar jam 19.30, akhirnya molor. Duh, kalo ada mas afie mesti pada di kritik lagi tuh. Budaya ngaret orang Indonesia yang gak patut diteruskan oleh kita. He he he… sampe-sampe mas afie buat tulisan untuk [...]

    Pingback by Kondangan Bengawan pertama di FF di KA! Kurnia Adhiwibowo | May 2, 2009

  20. Dokter Afie…I admire your ‘respecting time’ attitude. I was your student in your first time for being a tutor . I was late. I was wrong. And I must not have an ‘excuse’ attitude, right. So, from now on, i will be on time on every activities. Thanks for the knowledge also.

    Let’s make budaya tepat waktu ga cuma di Jepang tapi juga di Indonesia. Mangesthi Luhur Ambangun Nagara. Nuwun, dok…

    Comment by Sofina | May 2, 2009

  21. namanya jg di indonesia kq mas…
    dari dulu kala ya jam karet.mas afie muuga2 bisa membudayakan tepat waktu (ontime).Setelah dari jepang skrg udah plg ke indonesia jgn sampai ketularan lagi jam karetnya di sini.
    hehhehe….

    Comment by Nasrul Kurniawan | May 7, 2009

  22. klo ndak telat bukan indonesia mas.. :)

    kasihan yg on time :D

    Comment by raiderhost | May 10, 2009

  23. sip bgt waktu itu berharga.Mampir ke blog saya dunk saya biz posting tadi. ini alamatnya http://arifust.web.id jangan lupa komentarnya buat artikel saya.

    Comment by arif | May 13, 2009

  24. yap, harus menghargai waktu
    ontime, tapi waktu juga harus dimanfatin sebaik-baiknya
    ga boleh sia-sia
    semua kan ada proses, untuk sesuatu yang baik harus sabar selama proses itu..
    tetep berusaha n semangat :)
    mungkin nothing is imposible, if we have exelent affort

    terimakasih ya dok, for your knowledge in tutorial or lab :)
    maap dok, kalo selama ini salah panggil, mas, pak ,dok..
    maap.. :)

    Comment by dyah | May 13, 2009

  25. dulu saya pernah belajar untuk menjadi orng yang ontime, misalnya aja menghadiri rapat tepat waktu, tapi yang didapat malah tempat rapat yang kosong karena teman-teman belum datang.
    kadang, keadaan sekitar yang membuat kita menjadi orang yang tidak isa menhargai waktu…walaupun sebenarnya dari diri sendiri udah pengen belajar untuk itu.
    memang butuh keteguhan hati hehheheh
    oh ya dok,
    slide kuliah virology kemaren emangnya g bisa dicopy ya??
    trus belajar dari mana dunk???
    tolong pertimbangannya dok

    terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca comment saya
    met siang dok….

    -p0eTry-

    Comment by p0etry | May 15, 2009

  26. ini bukan karena saya sudah bisa menghargai waktu,
    tapi kalau dateng telat gitu, pasti saya keringetan :)

    Comment by mascayo | May 17, 2009

  27. nah hlo, ada yang nyindir juga. Hehe

    Comment by s H a | May 17, 2009

  28. Setujuuu…………dikalangan profesional, yang ‘kerjanya’ suka telat… pasti secara otomatis akan ‘tergeser’…. time is money

    Comment by masisnanto | May 18, 2009

  29. subhanallah… hugugugu…

    Comment by dem | May 19, 2009

  30. yo mikro cayo!! :p
    bubububuuu…,,
    tuing tuing tuing

    Comment by dem | May 19, 2009

  31. susah sih, kalo kita dah on time dan harus nunggu sampai 1 jam baru acara di mulai, lama-lama gak awet alias ketularan ikutan molooor

    Comment by ratna | May 20, 2009

  32. benar pak, harus menghargai waktu..
    waktu berjalan sangat cepat, tidak terasa..pelajarna buat sy..thanks

    Comment by eko | May 20, 2009

  33. mampir pak, terima kasih postingannya mencerahkan diriku

    Comment by gedeblog | May 20, 2009

  34. jadi inget deadline laporan skenario 2 dok..
    harus ontime ni..
    :D

    makasii yaa buat bantuan pertanyaannya tadi
    hhe..

    Comment by ira | May 20, 2009

  35. pengen seperti itu tapi koq kenapa agak sulit ya? :-)

    Comment by kodil | May 24, 2009

  36. salam kenal,
    hajimemashite,
    ali haji desu,
    douzo yoroshiku

    Comment by komuter | May 26, 2009

  37. waktu tidak akan bergulir mundur sob..:D

    Comment by nurrahman | May 27, 2009

  38. Telat adalah telat. Saya mencoba untuk on time dan tidak mencari kambing hitam atas ketelatan saya,.. your post is inspiring me, Sensei!

    Comment by evan saap | June 12, 2009

  39. thanks bos sarannya, ni buat pelajaran

    Comment by Bisnis Pulsa | August 24, 2009

  40. artikel yang sangat membangun..
    cocok buat pengembangan diri neh…hoohoho..

    Comment by waktu | November 21, 2009

  41. iya, kadang kita tidak terlalu menghargai waktu yang diberikan kepada kita. Inilah yang membuat kita kadang terlena dan bisa terjerumus dalam kemalasan. Menghargai waktu harus dilakukan agar kita bisa mampu menggunakan waktu dengan sebaik-baiknya tanpa harus melenakannya.

    Comment by Mengembalikan Jati Diri Bangsa | November 23, 2009

  42. Buatlah orang lain untuk berubah, kalau kita mulai dari diri sendiri itulah yang menjadi susah di Republik ini. Susah untuk mencari figur teladan soal disiplin, termasuk disiplin waktu

    Comment by Gawen | November 27, 2009

  43. disiplin waktu itu memang penting….disiplin waktu bisa diajarkan sejak dini, misalnya waktu sholat harus tepat waktu itu mendidik anak untuk disiplin menghargai waktu..
    gantian kunjungi website ayas

    Comment by alitawang | March 4, 2010

  44. Asslamu alaikum bang…..
    nama ane fauzan….
    mau minta izin nih, berhubung ane masih newbie, pengen masukin posting abang di blog ane… boleh kaga’?????

    n sekalian minta masukan dong, gimana caranya buat menu kaya’ punya abang di blogspot???????

    mohon di balas ya bang….

    trims nih sebelumnya…..

    e-mail: branzel09@gmail.com
    blog : branzel.blogspot.com

    Comment by fauzan | March 13, 2010

  45. al waqtu kassaif…(waktu ibarat pedang)
    jika kamu tidak menebasnya maka ia yang akan menebasmu…..
    taujih yang menyentuh…..

    Comment by lyan | March 28, 2010

  46. Setiap detik waktu itu mahal harganya ! Saking mahalnya, berapapun uang yang dimiliki, kita gak bisa untuk membeli waktu walaupun cuma untuk mundur sedetikpun. Tidak ada yang bisa kita lakukan atas semua perjalanan hidup yang telah kita lalui. Mungkin kita masih bisa menyesal tapi itu adalah jalan yang salah. Kata orang bijak : ” Sebaik-baik manusia adalah manusia yang mau belajar dari masa lalunya.” So….Jadi, walaupun negara kita sudah “terlanjur” menggunakan “jam karet” tapi pembelajaran harus dimulai dari hal yang terkecil, dari kita sendiri dan dari sekarang juga. Selama ini saya sangat sadar sudah berfoya-foya menghambur-hamburkan waktu dan menganiaya diri sendiri. Mulai sekarang saya sedang belajar secara bertahap untuk bisa menghargai waktu dan menghemat uang. Semoga Allah menunjukkan jalan dan petunjuk bagiku.

    Kepada pak Afie : Makasih banyak sudah bersedia membuat tulisan ini dengan ikhlas dan tanpa pamrih. Makna yang terkandung di dalamnya sangat menginspirasi aku.

    Comment by Prasetyo | April 17, 2010

  47. kitalah yang harus mengatur waktu jangan sampai waktu tersebut yang mengatur kita.
    trims atas waktunya yang sangat bermanfaat, sukses selalu n tetap semangat

    Comment by harto | June 29, 2010

  48. jadi jika waktu udh kita hargai apakah kita bisa berhasil

    Comment by mguntur | April 3, 2011

  49. jadi aku smeakin ingin menghargai waktu nih..

    Comment by info info unik | June 3, 2011

Leave a comment

*
To prove you're a person (not a spam script), type the security word shown in the picture.
Anti-Spam Image