Dana Penelitian Dalam Negeri

Kenapa publikasi internasional dari Indonesia rendah? Masalah ini sudah basi, mungkin, tapi kali ini terpaksa saya bahas lagi, karena baru saja mengalami sendiri *smile*. Salah satu masalah yang sering dijadikan kambing hitam adalah dana penelitian dari dalam negeri. Sedikit? Bukannya sekarang ada dana strategis nasional 1 M dan dana sesuai strategis nasional 100 juta per-tahun, ditambah ada dana ristek sampai 500 juta per-tahun, dll, dst?

Ada dua masalah, yang menurut saya harus diatasi dengan cerdik dan bijaksana. Yang pertama adalah jadwal turunnya dana. Dari DIKTI misalnya, untuk jadwal pengumpulan laporan 15 Desember nanti, dana penelitian baru saja turun (atau akan turun untuk beberapa program). Bayangkan, laporan penelitian harus sudah dikumpulkan Desember, eh, dana baru turun sekitar Juli.

Masalah yang kedua adalah besar dana, terutama untuk penelitian di bidang saya. Di bidang saya, rata-rata dana yang dibutuhkan untuk mengumpulkan data yang layak dipublikasikan di jurnal internasional adalah sekitar 300-400 juta rupiah. Dan ini baru bicara layak publikasi internasional, lho ya, belum bicara kualitas data dan kualitas jurnal target. Lho, bukannya dana penelitian sekarang besar-besar? Ada dana 100 juta per-tahun, bahkan yang 1 M pun ada. Masalahnya adalah, besar dana yang betul-betul bisa dibelanjakan kurang dari itu *smile*. Dana yang didapat masih harus dipotong pajak (15%), dan mungkin fee-institusi (untuk beberapa institusi tertentu), plus honorarium. Dan besar dana yang didapat terasa “sedikit” setelah saya mengetahui berapa rata-rata harga kit dan reagen di Indonesia. Di penelitian saya tentang studi epidemiologi molekular HIV-HCV, misalnya. Saya membutuhkan RT-PCR kit. Anda tahu berapa harga rata-rata RT-PCR kit baik satu maupun yang dua step? Berkisar 10 juta rupiah lebih untuk 50 pemeriksaan. Padahal, saya tidak sekedar RT-PCR kit, tetapi nested, berarti membutuhkan polimerase tambahan sejumlah pemeriksaan yang saya lakukan. Lho, dananya kan sekian puluh juta? Nha ini, jika kita bicara publikasi internasional, maka dibutuhkan pemeriksaan sekian ratus sampel,…jadi untuk RT-PCR kit-nested saja, butuh….?*smile*. Dan, untuk publikasi internasional, data PCR saja tidak cukup, butuh data analisis filogenetik. Untuk membuat analisis filogenetik membutuhkan tahapan sekuensing, yang untuk 1 sampel sekuensing butuh paling murah 200 ribu rupiah (catatan: 1 isolat harus disekuensing dengan 2 primer, berarti 2 sampel sekuensing, berarti butuh 400 ribu rupiah. Lha kalau sekian ratus?*smile*). Itu belum dana yang dibutuhkan untuk pemeriksaan serologi, bahan-bahan kimia, termasuk tips. Beberapa hari terakhir ini saya benar-benar pusing mengatur anggaran *smile*.

Masalah di atas mungkin tidak menjadi masalah jika target saya hanya “bisa melakukan penelitian”. Masalahnya, saya mempunyai impian setinggi langit. Target saya untuk publikasi internasional adalah minimal 1 per tahun *smile*. Selain untuk mendukung gerakan go-international-nya UNS, pengen eksis di tingkat internasional, boleh dong? Masak saya punya publikasi internasional hanya gara-gara saya kuliah di luar negeri saja *smile*. Saya ingin membuktikan bahwa kerja di dalam negeri pun juga bisa produktif menghasilkan publikasi internasional, setahun minimal satu. Sulit? Tidak juga, jika kita sudah tahu dan punya “why”-nya, maka “how”-nya jadi gampang. Untuk mengatasi masalah biaya tersebut saya melakukan kerjasama dengan institusi yang lebih mapan masalah dana. Untuk sekuensing, misalnya, saya mungkin akan melakukannya di luar negeri, untuk menghemat dana penelitian yang saya dapat dari dalam negeri. Rekan saya di luar negeri punya dana sisa-sisa yang teramat banyak untuk hanya melakukan sekuensing *smile* (ngiri mode on). Saya juga bekerja sama dengan peneliti lain di dalam negeri untuk sharing bahan-reagen. Saya beli reagen A dia beli reagen B, lalu nanti saling tukar-pinjam. Jadi bagi Anda yang berniat sharing dengan saya, jangan segan untuk menghubungi saya. Dan prinsip “ra ubet ra ngliwet” juga harus dilakukan biar penelitian bisa jalan. Kalau ada kesempatan, dan jika terbukti sukses, akan saya jelaskan cara saya mengatasi dua masalah di atas secara lebih mendetail.

Omong-omong, bagaimana kiat-kiat Anda menyiasati dua masalah besar di atas? Senang sekali jika Anda berkenan berbagi tips, pengalaman, dan saran dengan saya. Terima kasih sebelumnya.

9 Responses to “Dana Penelitian Dalam Negeri

  • a nice blog, pak dokter.
    masalah riset ya, mungkin bisa cari sponsor dari pihak swasta. kalo saya lihat dosen2 di fakultas ana biasanya dapat hibah dari pihak swasta dgn MoU tertentu. atau ada juga dosen yang membuat riset antar universitas baik dalam / luar negeri.
    btw, jadi ngiri ni kalo lihat pak dokter Uns yang senang riset. karena dulu pengen juga masuk uns lewat pmdk, tapi g diterima he..he…,..
    mampir ya dok ke blog ana :
    http:harsono81.wordpress.com

  • saya menikmati ceritanya saja dok,
    nambah wawasan baru seputar dana penelitian dalam negeri.
    Bisa tambah-tambah bahan ngobrol di pos kamling.
    Sukses terus dok penelitiannya

  • kalo saya menikmati angkanya saja dok…dana segitu mungkin dah bisa untuk mengemban misi mengembalikan jati diri bangsa dok 🙂

  • mnatap banget nih artikel, thanks for infonya gan!

  • menurut saya yang jadi masalah adalah dana yang disediakan dalam bentuk -saya sebut sebagai “paket”-. misalnya saja untuk penelitian mahasiswa dari dikti. tiap proposal penelitian yang lolos didanai 10 juta (belum dipotong pajak dimana-mana :D)tanpa membedakan -atau mungkin bahasa kasarnya “menimbang”- bobot masing-masing penelitian. terkadang hal seperti ini dimanfaatkan untuk mendapat -mungkin sebutannya “upah”, karena pada program dikti tidak diperkenankan mencantumkan anggaran berupa gaji atau bayaran untuk peneliti. namun dipihak lain ada juga yang memiliki ide bagus tapi justru harus merogoh dalam-dalam kocek pribadi demi mengejar hasil yang berkualitas.

    saya merasa heran,, kenapa anggaran dana harus diberikan dalam bentuk “paket”???

  • menurut saya yang jadi masalah adalah dana yang disediakan dalam bentuk -saya sebut sebagai “paket”-. misalnya saja untuk penelitian mahasiswa dari dikti. tiap proposal penelitian yang lolos didanai 10 juta (belum dipotong pajak dimana-mana :D)tanpa membedakan -atau mungkin bahasa kasarnya “menimbang”- bobot masing-masing penelitian. terkadang hal seperti ini dimanfaatkan untuk mendapat -mungkin sebutannya “upah”, karena pada program dikti tidak diperkenankan mencantumkan anggaran berupa gaji atau bayaran untuk peneliti. namun dipihak lain ada juga yang memiliki ide bagus tapi justru harus merogoh dalam-dalam kocek pribadi demi mengejar hasil yang berkualitas.

    saya merasa heran,, kenapa anggaran dana harus diberikan dalam bentuk “paket”???

    (ini hanya sekadar pemikiran saya yang sangat mungkin keliru dalam memahami,,,,)

  • Klo universitas ternama bs dgn mudah mendapatkan dana baik dr dlm maupun luar negeri krn link nya udh kuat, tp gmana dgn universitas tdk ternama & swasta pula, kesempatan utk diberi dana sangat minim. Menurut sy harusnya setiap universitas diberi kesempatan utk mendptkan dana penelitian krn dana pemerintah untuk pendidikan adalah hak semua warga negara indonesia, sistem seleksi dalam mendapatkan dana penelitian menurut saya salah satu faktor pembatas kreatifitas dosen/peneliti. Dengan dananya yang cukup byk, harusnya setiap universitas bisa mendapatkan jatah dana penelitian untuk kemajuan universitasnya bahkan untuk indonesia, why not?????

  • @rere: kolaborasi dulu saja sampai mempunyai CV yang kuat untuk dijual…

  • punya informasi sumber dana penelitian untuk instansi pemerintah non universitas nggak… coz kalo nunggu dana dari departemen kayaknya seret. thank you.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar