Pengobatan Alternatif?

Saya tergelitik menulis ini setelah baru saja melihat acara yang membahas pengobatan alternatif di sebuah stasiun televisi swasta. Di acara tersebut ada narasumber yang berusaha menerangkan penyakit akibat infeksi TORCH, lengkap dengan istilah-istilah medis. Yang menjadi masalah, penjelasan si narasumber tersebut sangat ngawur dan bisa dibilang SALAH KAPRAH. Penjelasannya tentang istilah medis yang dipakai saja ngawur full, apalagi ketika menjelaskan mekanisme terjadinya penyakit dan sebagainya. Sebelumnya, perlu diketahui bahwa meskipun saya dokter tapi pendapatan utama saya bukan dari praktek dokter, jadi tulisan ini bukan karena takut saingan, takut pasiennya lari, dsb.

Beberapa hari yang lalu saya sangat prihatin ketika mengetahui orang dekat saya, yang notabene berpendidikan tinggi, memakai “kalung magnit” yang “terkenal di Jepang”. Saya tertawa terbahak-bahak sekaligus mengelus-elus dada. Lha wong, selama di Jepang saya tidak pernah mendengar/menemukan kalung tersebut *smile*. Kalung tersebut “katanya” dapat “mencegah segala macam penyakit”. Hehehe, hebat sekali bukan? Yang lebih hebat lagi adalah beliau berpendidikan tinggi, tapi begitu percaya-nya dengan klaim-klaim si penjual. Padahal sekarang jaman internet. Kalau betul telah teruji secara ilmiah, tinggal cari saja publikasi ilmiah tentang itu, bisa via pubmed misalnya.

Salah satu alasan orang dekat saya tersebut membeli kalung magnet tersebut adalah penjelasan yang diterima memakai istilah-istilah medis, sehingga meyakinkan dan kadang “masuk akal”. Hal semacam ini sering disebut “pseudoscience”. Pseudo, karena hanya seolah-olah science, tapi bukan science betulan *smile*. Sayangnya, yang palsu-palsu sering lebih laris dibandingkan yang asli-asli, hehehe….

Saya bukan anti pengobatan alternatif. Ada beberapa yang memang betul-betul “manjur”. Namun masalahnya banyak juga yang bohong belaka. Berbeda dengan pengobatan modern (baca dunia kedokteran), dunia pengobatan alternatif tidak mempunyai standar yang jelas. Di dunia kedokteran, semua tindakan-obat dst telah melewati sekian banyak pengujian secara ilmiah sebelum diterapkan pada manusia. Bahkan setelah diterapkan pun masih diteliti untuk mengetahui tingkat efektifitas-efek samping, dsb. Standar keberhasilan pun selalu jelas dan selalu diperjelas. Gejala hilang sering belum berarti sembuh di dunia kedokteran. Sedangkan pengobatan alternatif? Adakah standar yang jelas? Adakah rangkaian penelitian yang panjang sebelum diterapkan pada manusia?

Salah satu hal yang salah kaprah yang sering terkait pengobatan alternatif adalah klaim “alami pasti aman”. Kebetulan beberapa hari yang lalu saya mengikuti suatu seminar MLM yang produknya makanan tambahan. Produk tersebut memang bagus sekali, saya sendiri mengkonsumsi beberapa. Namun saya kurang sependapat ketika si presenter mengatakan “produk ini dari bahan alami, jadi pasti aman…”. Lho, siapa bilang?

Kalau membaca obat dokter, yang sering disebut masyarakat umum sebagai “obat kimia”, kita akan menemukan banyak sekali keterangan termasuk diantaranya efek samping. Sedangkan kalau kita membeli makanan tambahan atau “obat berbahan baku alami 100%”, biasanya tanpa keterangan macam-macam termasuk adanya efek samping. Yang menjadi salah kaprah adalah, banyak dari masyarakat yang kemudian menganggap itu sebagai pembenar bahwa obat kimia dokter berefek samping sedangkan yang berasal dari bahan alami pasti tidak berefek samping, jadi pasti aman. Padahal, yang namanya “obat kimia dokter”, itu dulu juga berasal dari bahan alami. Jika suatu bahan alami diketahui mengandung khasiat terapi, misalnya, maka akan dicari bahan aktif apa yang menyebabkan khasiat tersebut. Bahan aktif tersebut kemudian di”murni”kan, agar bisa dipelajari lebih dalam segala sesuatunya. Dan dalam perjalanannya menjadi obat yang sampai ke pasien, bahan berkhasiat obat tersebut telah melalui berbagai macam uji, termasuk diantaranya tentang efek sampingnya. Dalam tahap itu, efek samping bahan berkhasiat obat tersebut benar-benar dicari seteliti-telitinya, sedemikian hingga sehingga, dipastikan bahwa efek samping jangka pendek dan jangka panjang bahan berkhasiat obat tersebut masih di bawah efek terapinya. Dengan kata lain, keuntungan menggunakan obat tersebut masih lebih besar dibandingkan kerugiannya. Setelah sampai di tangan pasien pun, masih diobservasi penggunaannya, termasuk tentang efek samping jangka panjang dan nilai benefitnya. Lha kalau pengobatan alternatif?

Karena itu perlu disadari, bahwa pengobatan alternatif tidak berarti pasti lebih aman dari pengobatan modern. Semua klaim “alami pasti aman” tersebut janganlah ditelan mentah-mentah. Ingat, efek samping “bahan-bahan alami” tersebut belum sungguh-sungguh dicari, itulah kenapa data tentang efek sampingnya belum ada. Jadi yang betul adalah “belum ada data tentang efek samping” BUKAN “tidak ada efek samping”. Jadi amankah pengobatan alternatif? Jawabannya, adalah tidak tahu. Lha belum ada datanya? *smile*.

Sekarang tentang keberhasilan terapi. Di dunia kedokteran standar keberhasilan terapi dibuat jelas-terukur dan selalu diperjelas dan tambah terukur. Hal ini karena semua yang dilakukan berasal dari rangkaian penelitian-penelitian ilmiah, dan hasil-hasilnya pun selalu diuji secara ilmiah pula. Tidak jarang metode yang dilakukan pada suatu masa tidak digunakan lagi di masa depan karena setelah serangkaian penelitian lanjutan mendapatkan hasil yang merekomendasikan keputusan tersebut. Lha pengobatan alternatif? Sering keberhasilan terapi dinilai dari “hilangnya gejala”, dan “pengakuan pasien”. Padahal, di dunia kedokteran, hilang gejala belum tentu sembuh, dan pengakuan pasien merupakan data yang bobot ilmiah-nya termasuk paling rendah… *smile*.

Lalu sekarang komentar khusus saya tentang acara pengobatan alternatif yang baru saja saya lihat di TV. Acara semacam ini seharusnya memakai filter, karena yang menyaksikan mempunyai tingkat intelektualitas yang beragam. Saya sangat khawatir mereka yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup tentang ilmu kesehatan akan menelan mentah-mentah penjelasan si narasumber tersebut. Saya tidak peduli si narasumber betul-betul manjur mengobati atau tidak, yang saya sorot adalah penjelasan yang dia berikan teramat sangat ngawur. Bagaimana jika yang sakit betulan salah paham dan lalu mengikuti anjuran-anjurannya? Apa tidak akan bertambah parah sakitnya? Hm….

Lalu bagaimana menyikapi banyaknya jasa pengobatan alternatif yang sangat menjamur di Indonesia? Jawabannya adalah, jangan berpikiran irasional. Lihat bukti ilmiahnya, jangan hanya percaya dan menelan mentah-mentah klaim penyedia jasa tersebut. Kalau ada yang bilang “obat segala macam penyakit”, “dapat menyembuhkan segala macam penyakit”, dll….itu jelas pasti bohong. Lha kan namanya juga usaha, Mas, kalau berhasil sembuh kan Alhamdulillah…. Usaha ya usaha, tapi kan tidak pakai ngawur kan ya? Cari duit itu susah, daripada mencoba yang belum pasti mending yang pasti-pasti saja… Lalu, berarti tidak perlu mencoba pengobatan alternatif? Oww, kalau itu mah, keputusan di tangan Anda. Kalau saya, yang pasti-pasti saja deh…*smile*

21 Responses to “Pengobatan Alternatif?

  • pengobatan alternatif emang menjadi salah satu cara orang lari dari ‘bangunan kapitalis hedon’ yang menyesatkan yang malah bikin orang menderita yang malah mengadukan pasien ketika si pasien angkat suara setinggi-tingginya mengenai kebijakan2 yg ada dlm bangunan non-proletar tersebut 🙁

    ponari?!?!? entah kemana sekarang bocah itu ?!?!

  • ada award kang di tempat saiia… silahkan di ambil semua, boyong semua pasang di sini… semuanya :thumbsup: great damn article here !!!

    matur tengkyu 🙂

  • Dokter Afie,
    Yang bikin masyarakat awam percaya pada dokter ‘alternatif’ itu adalah testimoni, baik yang dipublikasikan oleh si dokter itu, maupun testimoni yang didapatkan langsung dari (mantan) pasien. Entah apa yang terjadi pada proses pengobatan alternatif itu, mereka merasa gejala sakitnya hilang, (dan mungkin belum merasakan efek-sampingnya). Mereka tidak faham betul ini karena manjurnya obat alternatif itu atau sekedar co-incidence saja, pas sumber penyakitnya udah kenyang n ga doyan lagi… he..he..
    Salam,

  • lgsung kirim aja email ke PH / TV yg nyelenggarakan acara itu dokt.. itung2 ber’amal, mengingatkan klo ada hal yg salah..

    dan mungkin di sini bs lebih dijelaskan di sisi mana yg salah… biar orang2 awam kyk sy bisa belajar juga dokt.. 🙂

    btw, matur nuwun atas ilmu2 medis nya dokt.. salam super.. *hehe..*

  • hmm pengobatan alternatif itu sebetulnya berguna juga tuh ya dok ?hehhe tapi takutnya kalo salah kasih obat gt bahaya juga ya dok,cara menyikapinya gmn ya dok?hehhe salam kenal dok ^^

  • Testimoni memang ampuh untuk mendongkrak pemasaran. Dan para dukun sadar akan hal itu.

    Hmm… kerokan juga termasuk pengobatan alernatif ya? 😀

  • Dikala biaya pengobatan semakin mahal… banyak orang awam beralih ke yg alternative…. baik metode pengobatannya juga alternative biaya yg barangkali lebih murah..
    Salam Kenal
    Salam Hangat
    C.U

  • saya bukannya nuduh tapi bangsa kita kebanyakan suka yang cepat masalah yang timbul dibelakangnya kadang tidak di perhitungkan, sebagai contoh ada iklan yang mengatakan bisa mengobati berbagai macam penyakit kronis dan beberapa penyakit yang menurut dokter harus operasi tapi mereka klaim sembuh keakar2nya tanpa operasi,dsb………..
    kadang saya bertanya dalam hati berapa lama mereka belajar pengobatan itu dan dimana? karena gelar yang mereka gunakan juga bukan gelar sembarangan seperti DR,MBA dsb… yang tidak relevan dengan ilmu pengetahuan yang di tawarkan. untuk itu saya berharap izin praktek pengobatan alternatif ditertibkan…

    untuk yang mumpuni praktek alternatif nggak masalah tapi untuk yang abal2 ini kan kasihan pasienya… klo terjadi malapraktek kemana harus mengadu……..

  • Saya juga tergelitik setelah membaca komentar dokter Afie tentang pengobatan alternatif. Keduanya (medis dan Non medis) ada tempatnya sendiri-sendiri, jadi tidak perlu dokter terlalu mengunggulkan segi medisnya. Betul ada komentar, silakan dokter usul ke yang mengeluarkan ijinmya saja.
    Contoh operasi ginjal, Jantung dsb. berapa persen tingkat berhasilnya? apa pasti 100% berhasil? Medis mengatakan Merokok memperpendek Umur? Coba kita lihat di RT (Rukun Tetannga) kita masing-2 kira-2 50-an keluarga, berapa orang yang mati karena merokok? Dan lagi… dengan semakin majunya ilmu kedokteran, kenapa umur manusia sekarang jadi semakin pendek? dan rata-2 mereka mati karena sakit dan kebanyakan sudah kenyang dengan berobat ke dokter. Jadi kesimpulannya…. mari kita jalan dibidangnya sendiri-2 dan jangan saling merendahkan. Kalau ada yang salah dan kita ingin membetulkan, lewatlah pintu dan jalur yang benar. Dulu minyak goreng yang bagus yang dari tumbuhan/minyak sayur(contoh Jagung), sekarang prof.Bambang dari Jogja (Gama) kembali ke minyak kelapa dan menurut data medis lebih bagus. Itu kan korban merk. di Amerika produksi Jagung sangat berlimpah.
    Kenapa dokter tidak usulkan tentang bahaya Kedelai import yang sekarang banyak dipakai produsen tahu/tempe, makanan khas rakyat indonesia? padahal kedelai yang diproduksi dengan sistem trans-genetik itu tujuannya dipacu tumbuh untuk makanan hewan. Dan menurut penelitian dari Jerman belum berani menyatakan aman untuk manusia. Salah satu TV swasta +/-setahun yang lalu pernah menayangkan (dari kesehatan) bahayanya kedelai import untuk dikonsumsi manusia. antara lain: mudahnya terkena kanker, dll.
    Salam buat semuanya….. mari kita sumbangkan pengetahuan kita buat sesama. dan kita ingatkan yang salah atau lupa dengan cara yang arief.

  • yang pasti2 aja dech…saya pake generik juga sembuh koq, murah lagi

  • @ Bawor: Mas Bawor, terima kasih komen-nya, sangat saya apresiasi sekali. Sepakat Mas, mari kita sumbangkan pengetahuan kita buat sesama. Dan kita ingatkan yang salah atau lupa dengan cara yang arief.
    Nha, kalau Anda baca tulisan saya dengan teliti, yang saya tembak ada tiga, yang pertama acara “pengobatan alternatif di TV swasta” yang sering isinya ngawur. Beberapa kali saya menjumpai mereka yang tampil menjelaskan proses penyakit dengan bahasa medis dengan penjelasan yang salah total. Kalau mereka ingin menjelaskan suatu penyakit memakai bahasa medis ya pakailah penjelasan medis yang betul. Saya punya banyak teman yang bergelut di pengobatan alternatif dari yang mulai prana sampai yang pakai media keris, tapi tidak ada yang ngawur kalau menjelaskan suatu penyakit. Kalau toh mereka menjelaskan sesuatu penyakit medis, mereka biasanya menggunakan bahasa mereka sendiri, tidak memaksakan diri menggunakan istilah medis. Nha, yang seperti ini bukan sasaran tembak tulisan saya. Yang saya tembak yang menggunakan bahasa medis untuk menjelaskan sesuatu tetapi penjelasannya ngawur. Sebagai contoh, nggak perlulah si pengobat alternatif itu menjelaskan tentang hasil pemeriksaan IgM atau IgG kalau arti IgM dan IgG saja belum tahu.
    Sampai di sini saya harap Mas Bawor sepaham dulu dengan saya.

    Sasaran tembak yang kedua adalah klaim “yang alami pasti aman”, “obat dokter pasti berefek samping karena dari bahan kimia”. Itu statemen yang membodohkan dan tidak ilmiah. Penjelasannya bisa dibaca lagi di tulisan saya.

    Sasaran tembak yang ketiga adalah kita yang sering bersikap irasional dalam menyikapi pengobatan alternatif.

    Tentang pernyataan Mas Bawor, saya malah takut Mas Bawor menulis tanpa dasar. Tentang rokok, itu mulai ada penjelasan ilmiahnya, Mas. Dan itulah kedokteran modern, semuanya dicari sedetail-detailnya, selengkap-lengkapnya. Tentang umur manusia makin pendek dll, lho, apa hubungannya dengan kenyang minum obat dokter? Itu statemen yang OOT, Mas. Dan cerita tentang minyak sayur mungkin lebih OOT lagi dengan diskusi kita ini. Apalagi klaim kedelai transgenik berbahaya dikonsumsi…lho, transgenik yang mana? Mas Bawor tahu arti transgenik? Lagipula acara TV yang Mas Bawor kutip itu di dunia ilmiah (baca: biotek) di kritik habis-habisan karena tidak berdasar. Saya selalu menulis sesuatu yang saya benar-benar tahu tentang hal itu, Mas, bukan sekadar kutip dari majalah/TV/koran/blog orang lain. Saya harap Mas Bawor juga melakukan hal yang sama. Setuju?

    Intinya Mas Bawor, mau alternatif kek, mau pengobatan dokter modern kek, saya hanya menyarankan ikut yang pasti-pasti saja. Di kedokteran sendiri ada istilah EBM, Evidence Based Medicine. Untuk pengobatan alternatif, kalau memang ada metode yang EBM, ya silakan aja… EBM lho ya, bukan yang pseudoscience.

  • menggaris bawahi beberapa pernyataan diatas :
    1. Sekedar masukan dan saya setuju yg diungkapakan Pak Afies tentang PENGOBATAN ALTERNATIF !
    Bahwasanya cara pengobatan ada yg bisa dilakuakn secara medis kedokteran (pengobatan modern) dan ada cocok dilakukan dengan alternatif.
    Namun digarisbawahi bahwa pengobatan alternatif harus lebih teliti memilihnya dikarenakan ‘tolak ukur’ tata cara pengobatannya harus jelas dan bisa dipertanggungjawabkan dengan baik bukan yang mengada=ada, saya beberapa kali menggunakan obat alternatif hasilnya sasngat baik dlm waktu beberapa hari (mungkin bila menggunakan ilmu kedokteran butuh lebih seminggu).
    sebagai case : ilmu tusuk jarum (china) adalah sebagaian obat alternatif yang sangat manjur, walau tidak menggunakan ilmu kedokteran

    2. merokok memperpendek umur, sebagai istilah dari pengguna rokok dimana berbagai racun yang terdapat didalamnya akan mengakibatkan kinerja organ2 tubuh kita menjadi tidsak sempurna/gagal. Contoh gangguaan jantung, paru=paru, kanker dst. Parameternya tidak secara langsung merokok sebungkus mengurangi 10 menit umur siperokok, tidak seperti itu, namun efek2 yang diakibatkannya. Allahbissawab

    demikian kiranya, sesuatu hal tidak perlu didebatkan. namun perlu dipelajari melalui bebrap sumber yang capable (internet bisa menjadi alternatif ilmu pengetahuan yg baik)

    wrm rgds

    heri

    ps, menjadi sehat adalah karunia terbesar manusia untuk melanjutkan hidup.

  • biasanya yang pake kata alternatif itu murah meriah …

  • Sebelum ilmu kedokteran ada di mana manusia berobat bila sakit?Knp dokter tdk bikin acara sendiri d stasiun TV swasta jdi kmi bisa liat dokter dan berinteraksi langsung.

  • @Heri:komentar “sebelum ilmu kedokteran dst” sptnya OOT, maaf.
    Kenapa tidak bikin acara sendiri? Hehehe, ini sepertinya juga OOT, maaf.

  • Assalamu’alikum,

    Saya sangat setuju dengan komentar Mas Bawor sama Mas Afie. Saya sebagai seorang muslim sangat yakin akan kekuasan Allah dalam meyembuhkan setiap penyakit karena penyakit diturunkan selalu dengan obatnya, kita hanya dituntut untuk berikhtiar dan berdo’a jangan sampai menyerah, diam, dan putus asa. Adapun jika penyakit itu memang tidak ada obatnya, artinya itu bukan penyakit tetapi adzab.

    Kembali ke pokok permasalahan…..

    Kenapa kita sebut obat atau pengobatan alternatif ? mungkin karena ilmu kedokteranlah yang pertama ditemukan sehingga yang lainnya menjadi alternatif. Seorang dokter yang bijak akan mempertahankan keilmuannya dan saya pikir ia tidak akan bisa 100% menjelaskan ilmu komputer, peternakan, atau pertanian. Demikian pula saya pikir setiap orang mempunyai keahlian masing-masing seperti seorang ahli akupungkur.

    Testimoni yang jujur memang merupakan bukti kuat bahwa si pasien dapat sembuh dengan obat tersebut. Memang bisa sebagai promosi tetapi proposi yang jujur tidak seperti obat-obatan yang diiklankan di televisi yang bisa menyembuhkan dengan cepat, seperti obat sakit perut, obat tetes mata, obat dan vitamin pencerdas untuk anak, obat diet dan sebaginya tanpa testimoni yang jujur dan nyata, bahkan pada iklan tersebut dibubui dengan kebohongan animasi seperti obat peninggi anak dan sebaginya.

    Saya mempunyai bukti kuat (boleh hubungi saya) yang mungkin menurut seorang dokter adalah kebohongan besar atau mustahil. Saya mempunyai seorang kakek yang sudah lama sakit saat kencing dan setelah dilakukan pemeriksaan secara medis ternyata ada batu di dalam saluran kencing dan merurut tim dokter satu-satunya jalan untuk sembuh adalah dioperasi untuk mengeluarkan batu tersebut. Karena trauma akan kegagalan-2 operasi yang dialami teman-temannya di rumah sakit X yang notabene penuh dengan dokter special dan izin yang resmi. Sebagai tindakan ikhtiar kakek dibawa ke pengobatan alternatif tenaga dalam HI (Hikmatul Iman), cara pengobatannya sama sekali tidak disentuh, dan anehnya atas izin Allah SWT batu tersebut hilang seletah 6 kali diterapi tanpa operasi dan dibuktikan dengan dironxten.

    Semoga kita semua sadar dan yakin akan kekuasaa-Nya dan saling menghormati semua profesi yang halal dan tidak melanggar hukum karena saya belum pernah mendengar ada pengobatan Alternatif yang menjadi Mal praktek tetapi sebaliknya tim medis lah yang sering melakukan hal tersebut (saya lihat di televisi).

    Oleh karena saya setuju dengan pendapat Mas Bawor dan Mas Afie sebaiknya protes atau kritik ditujukan kepada pihak yang bersangkutan atau instansi pemerintah yang memberi izin.

    Mohon maaf dan Terima kasih.

  • masitoh
    8 years ago

    saya setuju dengar dokter Alfie. Teruslah menulis untuk memberikan penceraha dan pengetahuan kepada masyarakat

  • kita wajib ikthiar ketika ditimpa mslh ataupun sedang sakit, Allah memberikan suatu penyakit pasti beserta obatnya, kita disuruh mencari obat trsbt, kita tdk boleh putus asa, sambil berdoa serta iklas menerima apapun yang yg diberikan Allah kepada kita, Allah telah mengukur kemampuan kita atas segala beban yang diberikanNya, asal kita pasrah kepadaNya, aktif dalam mencari ridhoNya, Insya Allah segala beban yang menimpa kita dimudahkan………….amien.
    ” Saat Allah menjawab doamu, Dia menambah imanmu, Saat Allah belum menjawab doamu, Dia menambah kesabaranmu, saat Allah menjawab doamu tapi tidak seperti keinginanmu, Dia memilih yang terbaik untukmu…..” Al-Hadist

  • Waw tulisan yang sangat bagus,dan sekaligus bisa membuka mata hati orang tentang pengobatan alternatif,semoga tulisan anda bermanfaat dan orang tidak salah langkah lagi dalm menentukan sikap.

  • nice blog… ^^

  • pengobatan alternatif itu skarang sudah banyak dinikmati,.
    lebih daripada pengobatan biasa,.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar