Berkunjung ke Namru2 Jakarta Pusat

Beberapa hari terakhir ini, saya bersama beberapa rekan dari FK UNS mengunjungi Namru2 Jakarta Pusat. Kunjungan ini selain training penggunaan alat yang bernama Luminex juga merupakan penjajakan kemungkinan kerjasama di kemudian hari. Pernah dengar Namru2?

Jika mendengar kata “Namru”, saya yakin, kita akan teringat “kasus dugaan pencurian spesimen, spionase, dll, dst” yang hangat dibicarakan di banyak media massa beberapa waktu yang lalu. Tapi memang tak kenal maka tak sayang. Bahkan kadang kecurigaan yang berlebihan sering akan banyak menimbulkan kesalahpahaman. Lalu, sebenarnya seperti apa sih Namru2 itu?

Namru2 berlokasi di dalam lingkungan DepKes! Jadi, bukan berlokasi terpencil jauh dari kesunyian, penuh kerahasiaan, eksklusif dan sebagainya. Karena itu saya sangat heran kenapa dulu begitu dicurigai macam-macam. Lha wong dari lokasinya saja jelas di dalam lingkungan DepKes *smile*. Kalau memang berniat macam-macam apa tidak terlalu gampang ketahuannya? Tapi memang yang namanya politik, hehehe….

Penjagaan Namru2 tidak seketat yang saya bayangkan. Pada prinsipnya, Namru2 di bawah kedutaan Amerika, sehingga mengikuti aturan di Kedutaan (tidak boleh memotret apalagi mengambil film di dalam/sekitar gedung). Namun karena untuk keperluan penelitian dan studi, saya diijinkan membawa kamera dan handycam (dengan syarat hasilnya tidak untuk dipublikasikan). Sebagai perbandingan, beberapa waktu yang lalu saya pernah mengikuti suatu training di suatu lembaga penelitian di suatu perusahaan swasta di Jepang. Kamera dan handycam hanya benar-benar boleh dihidupkan di dalam ruangan training ketika training tanpa sedikit pun boleh dihidupkan di luar ruangan training dan atau ketika tidak sedang training. Sedangkan di Namru2, saya bahkan diperkenankan memotret dan merekam ruangan-ruangan di Namru2 (Foto dan rekaman itu sangat penting bagi saya sebagai perbandingan untuk ditunjukkan kepada pimpinan institusi di lingkungan UNS, sebagai contoh pengelolaan laboratorium yang baik) ketika mengunjungi seluruh bagian Namru2.

Bayangan saya bahwa Namru2 penuh orang asing (baca Amerika) juga salah besar. Mayoritas staf di situ adalah orang Indonesia, WNI, yang nasionalitasnya tidak perlu diragukan lagi. Tak jarang pula saya menjumpai siswa dari dalam negeri yang sedang melakukan penelitian di Namru2. Keuntungan terbesar bagi para siswa tersebut melakukan penelitian di Namru2 adalah, berkesempatan untuk melakukan penelitian biologi molekular yang berkualitas tanpa kuatir masalah biaya. Bahkan ada pendampingan dari staf terlatih bagi mereka. Ohya, pada prinsipnya, penelitian yang dilakukan di Namru2 harus sudah disetujui komite etik di institusi asalnya, komite etik Namru dan bahkan litbangkes.

Banyak hal yang saya dan rekan dapatkan dari kunjungan ke Namru2 selama beberapa hari tersebut. Yang paling penting adalah kesempatan untuk bekerja sama di kemudian hari. Secara garis besar, untuk bekerja sama dengan Namru2 sangatlah mudah (detail tidak akan saya tulis di sini, maaf *smile*). Dan yang paling menarik bagi saya tentu saja kesempatan untuk melakukan penelitian kolaborasi dengan Namru2. Menarik karena alat di Namru2 begitu lengkap dan terorganisasir-nya sehingga saya sempat nyaris berpikir ini bukan di Indonesia *smile*. Tampak jelas jauhnya kesenjangan fasilitas penelitian antara kita dengan mereka. Membandingkan fasilitas penelitian antara institusi dalam negeri dengan di amerika jelas tidak apple to apple. Tapi Namru2 berlokasi di dalam negeri, dan bisa sebegitu lengkap dan rapi-nya. Kok bisa, ya? Tanya kenapa… *smile*. Anyway, Namru2 cukup terbuka bagi peneliti Indonesia untuk bekerja sama, baik dalam proyek penelitian yang sejalan dengan proyek mereka maupun yang tidak sejalan. Intinya, mereka lebih senang alat dan reagen yang mereka miliki dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibu Ika, Ibu Ati, Ibu Wini dan semua rekan di Namru2 atas kesempatan dan sambutan yang telah diberikan. Sepulang dari Namru2 otak saya sudah dipenuhi banyak ide penelitian kolaborasi, semoga dapat terlaksana di kemudian hari, amin.

10 Responses to “Berkunjung ke Namru2 Jakarta Pusat

  • hhhmmm… asyik ya bisa berkujung ke tempat sepenting itu, waktu saya berkunjung ke kedubes amerika di surabaya, staffnya juga banyak orang Indo nya koq

  • Hmmmm…saya belum baca bukunya BU S. Fadilah Supari sih, Dok.
    “Meskipun orang kita, gimana kalo keberpihakannya tidka ke kita? karena merasa begitu terfasilitasinya misal. Bukankah sejarah kita mencatat hal sama ketika orang dalam justru menjadi musuh sedangkan orang asing menjadi kawan (jadi inget tentang Laksamana Muda Maeda).

    Wahhhh jadi sok ngomongin sejarah yak!! hadoh.

  • @tegariana: Hm, no comment tentang Ibu tersebut. Yang saya tahu pasti dia bukan peneliti.
    Sangat berlebihan kalau menuduh saya atau kami yang bekerja sama dengan pihak lain (termasuk Namru) sebagai orang/pihak yang berpihak kepada pihak lain karena terfasilitasinya. Sepanjang pendidikan dan penelitian tidak dianggap di negeri ini, omong kosong menghindari kerja sama dengan pihak lain. Kecuali kalau mau ngomong nasionalisme semu. Sok “demi bangsa dan negara” tapi tidak ada yang dilakukan selain hanya omong besar tentang nasionalisme. Saya dan kami yang bekerja sama dengan pihak lain hanyalah orang-orang yang berusaha menyiasati hambatan di segala bidang di dunia penelitian di Indonesia.
    Yang saya tulis di atas tentang Namru 2 adalah pandangan obyektif, bukan berani membela yang bayar, seperti pendapat seorang mahasiswa FK UNS yang sangat piciknya. Saya yakin banyak dari kita tahu tentang Namru2 hanya dari media masa, termasuk tentang CIA dll yang heran saya betapa mudahnya “nasionalisme” kita tersulut dengan berita2 seperti itu.
    Nasionalisme kami tidak perlu diragukan lagi, termasuk MenKes yang sekarang. Dan saya banyak menjumpai staf Indonesia di Namru2 yang punya nasionalisme yang saya yakin lebih besar daripada mereka yang sok koar-koar tentang nasionalisme.

  • Wahhh…maaf DOK, jadi terkesan menyinggung. Tak bermaksud, Dok. Maaf…maaf. Kan hanya menyampaikan sudut pandang lain saja.
    (peace…peace)

  • Fie..

    Bener banget.. worked there for almost 2 years – nothing.. sedikit banget WNA – rata2 WNI.. jadi ya ga seseram yang diberitakan lah kalo NAMRU tuw..

  • EcoRIII
    8 years ago

    @NadNad: Bro u kerja d NAMRU? bisa mnt tolong kontak info nya gk? klo saya mau mnt penelitian d sana?? =)
    saya akan melakukan penelitian rekayasa molekular virus
    kliatannya keren bgt.. thx y..

  • gimane mo comment-nye yee… susah , kita yang sependapat sama afie sedikit… emang harus tao dulu dalemnye baru bisa comment…slama saya jadi mitra namru, hanya bisa mendoakan smoga para mahasiswa kita yang banyak praktek kerja di namru slama ini bisa tetap terakomodir buat kerja di lab yang modern ,walopun namru sudah kosong mlompong kali aja ada yang gantiin.
    sukses slalu buat para peneliti
    regrds
    jokerbekasi

  • ts aku liat blognya penuh petualangan…jalan2 terus..bravo mr afie

  • Rachmat
    7 years ago

    Terima kasih Afie atas tulisannya.
    Setelah Namru 2 jakarta resmi tutup, banyak penelitinya yang diminta untuk membantu penelitian di lembaga penelitian lain seperti Eijkman, UI, dll. Kalau mereka terbukti melanggar apa yg disebut2 Siti dalam bukunya, tentulah para peneliti Namru tidak akan diperkenankan bekerja di lembaga penelitian di Indonesia. Saya sekarang bekerja di Namru-2 Phnom Penh Kamboja. Saya lihat perbedaan yg nyata antara Indonesia dan Kamboja. Mereka melihat Namru-2 sebagai institusi penelitian bukan institusi politik. Kita bisa menjalin kerjasama yang baik dengan institusi kesehatan disini. Saya lihat banyak sekali keuntungan yang didapat pemerintah dan masyarakat Kamboja. Sayang, masyarakat kita seringkali memberikan penilaian terhadap sesuatu yang mereka sendiri sebenarnya mereka sendiri gak tau…..Yah, mudah2an dunia penelitian kesehatan di Indonesia bisa semakin baik dan MANDIRI seperti yg dicita2kan Siti, walaupun berita terakhir yang saya baca dari koran, anggaran Kemenkes untuk kesehatan masyarakat saja masih kurang apalagi untuk penelitian kesehatan….

    Betul sekali, Pak. Saya juga heran dengan orang-orang yang tidak tahu tapi sok tahu itu.Apalagi begitu mudah memberikan penghakiman. Saya pribadi termasuk yang merasa kehilangan dengan ditutupnya Namru-2. Heran sekali, kepentingan yang lebih besar dikalahkan dengan politik pencitraan sesaat. Tahukah, Bapak, betapa kagetnya dulu ketika saya tahu bahwa Namru2 itu di lingkungan Depkes (mengingat waktu itu diceritakan di media2 Namru2 “tertutup”, “penuh kerahasiaan”, dll).Astaga….

  • Sdr Afie, saya minta izin share tulisan/link ini ya. Buat Rachmat, sukses selalu. Peneliti ex N-2 memang berkualitas dunia, walaupun dipandang sebelah mata oleh pemerintahnya sendiri. Banyak lembaga2 penelitian di luar memakai jasa mereka, selain Cambodia, juga di Singapore, Mesir, Tanzania, di US sendiri, WHO dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar