Waria Juga Manusia

Penelitian saya tentang HIV dan HCV di Indonesia membuat saya mau tidak mau harus berhubungan dengan berbagai komunitas yang sebelumnya mungkin tidak pernah ada dalam bayangan saya. Salah satunya adalah komunitas waria. Saya sendiri punya teman waria. Penata rias istri saya juga seorang waria (yang riasannya sangat-sangat bagus, lho!!!). Tapi berhubungan dengan waria sebagai suatu komunitas? Wow,…

Saya melakukan kontak pertama dengan komunitas waria di Solo beberapa hari yang lalu. Mereka mempunyai rutinitas bermain voli pada hari-hari tertentu setiap minggunya. Bersama seorang rekan, saya datang untuk bersilaturahmi. Jujur saja, tersirat perasaan deg-degan ketika pertama kali menginjakkan kaki di lapangan voli tersebut. Bagaimana tidak? Di lapangan sudah berkumpul puluhan mbak-mbak yang macho dan banyak dari mereka yang badannya lebih besar dan lebih macho dibandingkan saya. Banyak pula dari mereka yang berpenampilan, maaf, “sangar”. Kalau sampai saya salah mengatakan sesuatu,…apa yang akan terjadi…? Satu-satunya hal yang mengurangi perasaan deg-degan itu adalah ada satu rekan saya di komunitas itu dan dia hadir. So, jika terjadi sesuatu setidaknya bisa minta bantuannya untuk menjelaskan segala sesuatunya…fiewhh….

Pertama kali ngobrol, kagok juga. Beberapa kali saya memanggil mereka dengan sebutan “mas”*smile*. Baru setelah ngobrol beberapa menit saya mulai terbiasa memanggil mereka dengan sebutan “mbak”, “mah”, atau “mamah”. Mereka ternyata sangat welcome sekali. Ramah dan tidak “macam-macam”. Bahkan mereka dengan senang hati membantu kegiatan penelitian saya tanpa menuntut syarat yang aneh-aneh.

Proses pengambilan data dan spesimen klinis yang saya lakukan beberapa hari kemudian juga berjalan dengan lancar. Kegiatan tersebut dilakukan di “markas” mereka yang terletak di suatu daerah di Solo. Mereka cukup kooperatif. Kesan “menakutkan” sudah hilang saat itu. Bahkan mereka sabar menunggu giliran untuk diwawancarai. Pada waktu itu kami (saya dan rekan) sempat pula mengobrol dan mendengarkan cerita-cerita mereka. Termasuk penolakan masyarakat yang masih ada bagi komunitas mereka. Hm, bagaimanapun juga, mereka (kaum waria) juga manusia. Dapat merasakan sedih, takut, dan sakit hati…

Dari sisi program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, komunitas waria semacam itu sebenarnya merupakan “aset”. Solidaritas yang kuat antar sesama anggota komunitas merupakan modal yang dapat dimanfaatkan untuk program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular. Latar belakang mereka yang mayoritas dari komunitas bawah (dan sering berasal dari komunitas yang “disisihkan lingkungannya”) membuat mereka kurang mendapatkan informasi yang cukup, termasuk diantaranya tentang penyakit menular. Padahal, begitu mereka mendapatkan pencerahan dan informasi yang cukup, kesadaran mereka untuk menjaga diri dan lingkungannya dari penyebaran penyakit menular cukup baik. Karena itu, dari sisi program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular, salah besar kalau komunitas seperti komunitas waria tidak dilibatkan secara aktif. Apalagi disisihkan? Ah, kenapa juga harus disisihkan, waria kan juga manusia…

21 Responses to “Waria Juga Manusia

  • Sepakat mas, mereka juga manusia. Punya rasa punya hati

  • Itu sebenarnya penyakit atau bukan sich kang?

  • cepet tobat….

  • dont judge a person by it cover lah yah 🙂

  • waria juga manusia…betul..betul…betul kata si upin dan si ipin…mudah-mudahan mereka cepat tersadar dari khilafnya dan dapat mengembalikan jati diri bangsa ini dengan tidak menjadi seorang waria

  • Serba repot juga sih…
    Di satu sisi banyak orang menolak kehadiran mereka, namun di sisi lain kaum waria itu memang ada dalam kehidupan masyarakat ini. Barangkali yang ditakutkan (terutama kaum laki2) saat di dekat mereka itu adalah kalau para waria itu colak colek seenaknya sendiri, padahal belum tentu demikian.

  • yeah kayaknya penting sih dibikinin kayak komunitas gitu

  • bagus sih selama komunitas itu lebih ke ekplorasi bakat2 mereka, meskipun waria mereka kan juga punya keahlian pastinya 😀

  • Yup. Semua manusia, tetap harus dibantu dan diperhatikan.

  • wah baru tau saya setelah sekian lama di solo…ada komunitasnya juga toh….ckckc…tapi emg perlu dibina, gmn caranya yah? wah lum sampe ilmu saia 😀

  • saat dipanggil mas, mereka marah gak pak ?? penasaran nie

  • manusia tetaplah manusia, harus saling menghormati.

  • walopun komentar saya ga nyambung sama postingan ini gpp ya… saya ingin mengucapkan :
    Taqobballallahu minna wa minkum, Syiamana wa syiamakum,
    Ja’alanallahu wa iyyakum, Minal aidin wal faizin
    Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
    Mohon maaf lahir dan bathin, maapin segala salah dan khilafku selama ini ya…

  • Sepakat, jangan salah bunda mengandung, itu pilihan mereka hidup sebagai waria, penelitiannya dilebarkan mas untuk mereka memilih dominansi karakter dan fungsi organ mereka agar tidak waria, man or women.

  • bagaimanapun juga mereka patut di hargai, saya salut dengan komunitas ini, thanks

  • @dNoxs
    hehe biasanya mereka agak nggak seneng kalau di panggil mas 😀

  • setuju gan, asal positif aja hehe

  • bla bla
    8 years ago

    di solo, dimananya!??

  • sepakat,…, mreka bjuga manusia yg mmpunyai prasaan sperti kita, jd smestix kt g ush terlalu brfikir negatif pada kaum waria.

  • Pak Afi, ini Rizky IO, kalo dari segi gender study (jadi bukan secara biologis), adanya waria itu karena pengaruh sosial budaya. Jadi mereka menjadi seperti mereka adanya itu karena pengaruh sosialisasi mereka sejak kecil atau bisa juga karena adanya trauma-trauma. =D
    Karena memang seperti itu pula terjadinya pemisahan gender feminin dan masculin. Mungkin di budaya kita hal seperti itu dikatakan waria = tidak wajar, tapi mungkin saja di belahan dunia yang lain, waria dikatakan sebagai gender masculin dan dianggap wajar.

    Jadi menurut saya, menjadi waria atau tidak adalah pilihan dan keadaan di sekitar dia. Kalau ketidaknormalan hormon atau secara sexual tidak normal tidak bisa disebut sebagai waria..

    Itu dinamakan cacat. =D
    Tapi itu hanyalah ide dan teori yang saya buat sendiri, hehehehe

  • eh,, ya dan wajar masyarakat menganggap mereka negatif, karena dianggap sebagai sesuatu yang menyalahi aturan sosial.
    tapi sebagai masyarakat yang terdidik, hehehe gak salah kalau kita menganggap mereka sebagai bagian dari masyarakat merdeka yang bebas memilih apa yang mereka pikir terbaik bagi mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar