Kenapa? Iri, ya?

Iri boleh-boleh saja, asalkan disalurkan secara positif, untuk menyemangati diri sendiri supaya menjadi lebih baik misalnya. Saya dulu pernah “iri” dengan teman satu angkatan karena nilainya selalu menjadi yang terbaik di angkatan. Perasaan iri tersebut membuat saya berusaha mati-matian untuk belajar ilmu kedokteran yang sungguh sebenarnya bukan materi yang gampang untuk dicerna (catatan: saya kan paling tidak suka menghafal). Pada akhirnya, saya memang tidak pernah sanggup mengalahkan nilai teman saya itu. Tapi meski kalah, saya tidak pernah menjelek-jelekkan / menjegal teman saya itu tuh….

Iri itu tanda tak mampu ? Ya iya sih….orang yang punya perasaan iri biasanya karena tidak / belum mampu. Perasaan itu wajar kok. Namun yang penting ya itu lho, penyalurannya. Kalau disalurkan dengan menggunjingkan si orang yang kita irikan apalagi pakai jegal-menjegal….ntar yang ndengerin komentar, “kenapa? lu nggak mampu, ya?”

Iri juga kadang timbul karena perasaan bangga pada diri sendiri yang berlebihan sehingga tidak bisa menerima kenyataan bahwa ada orang lain yang lebih sukses / hebat darinya. Hei, di atas langit selalu ada langit. Lagipula, masing-masing punya bidangnya sendiri-sendiri kok. Dia yang hebat di bidang A belum tentu hebat di bidang B, dst. Seperti saya misalnya, bidang saya virologi / biomol….tidak perlu memaksakan diri menjadi ahli statistik juga….

Namun yang penting….jangan usil dunk kalau iri…. Bermain bersih saja kenapa sih? Atau sudah sadar ya kalau bermain bersih tidak bisa mengalahkan? hehehehe….

Jadi, kesimpulannya…kamu begitu karena iri, ya? *smile*

One Response to “Kenapa? Iri, ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar