Jangan Takut Jadi Dosen (di Indonesia)

“kalau tidak praktek, lalu….?”

Ini pertanyaan yang dulu ditanyakan oleh orang-orang di sekitar saya ketika saya selesai studi S3. Waktu itu saya memang mengambil keputusan yang agak tidak lazim, yaitu “tidak praktek”. Hal ini wajar, karena persepsi yang berkembang saat ini adalah, dokter itu, setelah lulus, ya praktek. Lalu kalau ada kesempatan, ambil PPDS, lalu praktek lagi. Sedangkan saya, begitu lulus, langsung jadi dosen, keputusan yang juga kurang lazim waktu itu. Waktu belum studi lanjut ke S3 saya sempat praktek, namun juga tidak “seagresif” teman-teman lainnya.

Jadi dokter tidak harus praktek. Kita tetap dapat mengaplikasikan ilmu kita tanpa harus praktek. Jadi dosen-peneliti, misalnya, itu salah satu alternatif pilihan.

“Lho, lalu nanti kalau tidak praktek bagaimana?”

Bagaimana apanya? Materi maksudnya? Memang kenapa kalau jadi dosen-peneliti? Akan bermasalah dengan materi?

Ok, sebelumnya, kita harus sepakat dulu. Materi tidak perlu berlebih karena tidak dibawa mati, setuju? Yang penting “pas-pas-an”, kan? Maksudnya, yang penting tidak ada masalah pas mau bikin rumah, pas mau beli mobil, pas mau liburan keluarga, pas mau beli alat elektronik keluaran terbaru, ….  *smile*

Kemudian, yang harus kita sepakati dulu, materi tidak perlu berlimpah. Cukup “pas-pas-an” saja, asalkan kita punya waktu yang cukup untuk menikmatinya. Setuju? Karena bagi saya pribadi, apa gunanya punya rumah sangat mewah tapi kita jarang menempatinya? Apa gunanya punya mobil bagus kalau ternyata sopir kita lebih sering memanfaatkannya daripada kita? Dan apa gunanya punya simpanan uang berlimpah di bank tapi kita tidak punya waktu untuk menikmatinya?

Kalau Anda setuju dengan dua hal di atas, itu berarti, tidak ada salahnya Anda melirik profesi dosen-peneliti *smile*.

“Lho, bukannya gaji dosen-peneliti di Indonesia minim?”

Itu betul! Gajinya memang (relatif) minim. Bahkan ada joke, bahwa dosen itu kerjanya sak dos (= banyak) gajinya sak sen (= sedikit). Tapi hey, beda negara beda aturan, Bung. Di luar negeri, gaji itu satu-satunya pendapatan. Di negara kita, gaji tidak sama dengan take home pay. Dan, take home pay tidak sama dengan pendapatan.

“lalu kenapa banyak dosen yang hidupnya “harus bersahaja”?”

Ok, ini masalah pilihan. Mau hidup bersahaja? Atau mau hidup agak wah? Atau mau hidup mewah? Ini menentukan apakah kita mau jadi “dosen yang mengandalkan gaji” saja, atau “dosen yang mengandalkan take home pay”, atau “dosen yang berpendapatan”….*smile*. Tidak ada yang salah dengan apapun pilihan Anda. Hanya saja, setiap pilihan, ada konsekuensinya.

Maksudnya? Begini, kalau mau mendapatkan gaji saja, ya sudah, jadilah dosen yang “biasa-biasa” saja.

“Kalau ingin lebih bagaimana?”

Be active, be productive, dan yang paling penting, tingkatkan kapasitas pribadi dulu! Jangan minta “hidup wah” kalau masih fresh graduate dengan ijasah S1 sebagai dosen. Saya sangat menyarankan kepada para dosen yang ingin hidup layak untuk segera studi lanjut, hingga S3. Karena, biasanya kehidupan seorang dosen baru “dimulai” ketika dia telah lulus S3. Jangan tergoda segala macam godaan posisi dan materi sebelum lulus S3. Biasanya, itu hanya sementara. Begitu jadi dosen, langsung fokus sekolah sampai lulus S3. Jika memungkinkan, S3 di luar negeri, karena di masa depan, “start point”-nya relatif lebih baik. Setelah lulus S3, segera tentukan minat (atau akan lebih baik lagi minatnya ditentukan SEBELUM studi S3), dan fokus di minat itu. Aktif lakukan penelitian, aktif publikasi, aktif jual diri. Kecuali kalau memang minatnya di managerial (ingin jadi rektor, misalnya). Kalau tidak begitu suka “politik” seperti saya, fokuslah ke penelitian-publikasi-jual diri.

“Jeneng dulu baru jenang”, kata guru saya dulu, yang artinya kurang lebih, bangun CV kita sekuat dan sebagus mungkin, nanti materi akan mengikuti; jangan sebaliknya. Sayangnya, kita tidak mungkin bisa menjual diri kalau kita tidak punya publikasi. Kita biasanya sulit publikasi kalau tidak aktif melakukan penelitian. Kita juga sulit melakukan penelitian kalau tidak punya CV yang kuat… Lalu bagaimana? Berkolaborasilah. Itulah kenapa saya menyarankan Anda studi lanjut ke luar negeri, agar lebih punya modal untuk mengawali penelitian Anda sendiri di masa depan. Kalau lulusan dalam negeri, bagaimana? So what? Anda bisa berkolaborasi dengan mantan supervisor Anda, kan? Atau, kenapa tidak memperluas jaringan di dalam dan (terutama) di luar negeri untuk memperluas kesempatan berkolaborasi?

Atau kalau mau, investasilah.

Investasi untuk penelitian? Why not? Salah satu “kebiasaan” para dosen-peneliti (termasuk saya, mungkin) adalah menjadikan penelitian sebagai salah satu cara untuk menambah penghasilan. Tidak ada yang salah dengan hal ini, karena toh memang legal. Di Indonesia, kita memang berhak mendapatkan “honor peneliti”, tidak seperti di luar negeri, grant riset biasanya murni untuk riset saja. Namun yang perlu diingat, kalau kita menjadikan penelitian sebagai cara untuk menambah penghasilan saja, maka itu kurang optimum untuk mengangkat kehidupan kita. Kita harus punya goal untuk “hidup dari hasil penelitian”! Jika memang yang akan kita teliti memang punya nilai ekonomi yang cukup tinggi, kenapa takut investasi? Lagipula, kalau Anda sendiri tidak berani investasi karena Anda anggap penelitian Anda nilai jualnya kurang tinggi….apalagi para investor atau pemberi grant? *smile*. Lha kalau tidak punya nilai jual yang cukup tinggi? Ya, kalau Anda tipe idealis yang tidak peduli masalah materi, tidak perlu membaca tulisan ini….*smile*.  Cari dan lakukan penelitian yang punya nilai jual tinggi.

Saya idealis, tapi saya juga peduli masalah ekonomi. Saya sangat “sombong”, target penelitian saya hanya publikasi internasional dan paten. Kalau toh ada publikasi nasional, itu semata-mata untuk memenuhi syarat administrasi (karena grant yang saya dapat menuntut ada publikasi, misalnya). Karena itu, sejak awal, saya memutuskan untuk meneliti sesuatu yang memang punya “nilai jual” di masa depan. Jadi motivasinya jelas, ingin hidup dari hasil penelitian. Bukan semata-mata “mencari kum”. Kalau Anda ingin jadi dosen-peneliti yang bermateri, jangan terlalu peduli dengan kum….*smile*. Begitu standar dan target Anda tetapkan cukup tinggi, maka kum akan mengikuti …, believe me … *smile*.

So, darimana “take home pay” dosen-peneliti? Selain gaji, juga dari HR tugas/kegiatan tambahan. Ini sangat tergantung dari keaktifan Anda di institusi dan di masyarakat. Pembicara seminar, misalnya. Atau memberi pelatihan. Honorarium sebagai peneliti juga bisa dimasukkan disini, mungkin. Untuk yang sudah lulus S3, biasanya dilibatkan dalam proses belajar mengajar untuk S2 dan S3 (= tambahan pendapatan). Potensi untuk jadi konsultan juga besar. Tidak jarang dosen mendapat tugas tambahan untuk mengurusi suatu kegiatan/lembaga di universitas maupun di luar universitas (tugas resmi dari universitas), ini juga tambahan pendapatan yang tidak jarang nominalnya cukup besar. Bahkan, kalau “tugas tambahan”-nya menjadi direksi bank, misalnya, Anda tahu sendiri, kan? Berapa gaji-nya? *smile*. Ohya, ada tunjangan profesi untuk yang sudah sertifikasi, dan tunjangan guru besar untuk yang sudah profesor. Jumlahnya lumayan juga kok. Jadi seandainya Anda termasuk yang “biasa” saja, dengan tunjangan sertifikasi atau tunjangan guru besar juga cukup lumayan, kok … *smile*

So, darimana “pendapatan” dosen-peneliti? Selain gaji dan HR tadi, sebagai peneliti kita juga bisa hidup dari hasil penelitian kita. Sifatnya “passive income” pula …. Kita juga bisniskan sendiri hasil penelitian kita. Dan lebih dari itu, dosen juga boleh kok berbisnis atau berinvestasi ….  *smile*

“Lho, kalau begitu, lalu mahasiswanya bagaimana? Nanti sibuk cari pendapatan tambahan sehingga mahasiswanya kurang perhatian…..?” Hehehehe, terus terang saya paling sebal dengan pertanyaan seperti ini. Kita tadi mempermasalahkan “gaji dosen yang kecil”, kan? Saya hanya menyampaikan potensi sumber pendapatan lain dari seorang dosen-peneliti yang legal dan halal, di luar gaji pokok yang memang kecil. Lagipula, itu kembali ke masalah pribadi, tentang bagaimana kita mengatur waktu dan membuat skala prioritas. Kita tetap bisa melakukan kegiatan untuk mendapatkan “tambahan pendapatan” dan tetap menjadi “dosen yang baik” *smile*. Dan saya sangat-sangat-sangat menyarankan, sebagai dosen, jadilah dosen yang serius meneliti (bukan yang sekedar mengajar saja, dan bukan yang meneliti asal-asalan untuk mendapatkan kum/honor penelitian saja). Bahkan, believe me, begitu Anda serius di penelitian (yang linier dengan materi kuliah Anda, tentu saja), dan memperlakukan penelitian dengan cukup serius, kualitas dan kapasitas Anda sebagai pengajar akan meningkat. Ilmu Anda up to date, dan Anda mengajar berbasis hasil penelitian Anda sendiri, tidak hanya sekedar teori saja …

So, untuk Adik-adikku para dokter yang baru lulus. Kalau memang punya passion untuk jadi dosen, jangan takut jadi dosen, bahkan di bagian pre-klinik sekalipun. Saya dosen pre klinik (dan saya BELUM PERNAH mendaftar PPDS manapun! Dengan kata lain, saya jadi dosen bukan karena ditolak PPDS *smile*).

nb: tulisan ini saya dedikasikan untuk dua dosen baru yang memilih menjadi dosen pre klinik daripada lanjut  PPDS. Terima kasih emailnya, menjadi inspirasi saya untuk menulis postingan ini. Juga untuk dokter-dokter (dan sarjana-sarjana baru lainnya) yang punya passion ingin jadi dosen (di Indonesia) tapi masih gamang masalah materi … Don’t worry…. *smile*

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

Skip to toolbar